“Seorang
perempuan adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia akan dimintai
pertanggungjwaban atas kepemimpinannya.”
Secara
structural kemasyarakatan, keluarga merupakan mini kingdom dan seorang Ibu
adalah ratunya. Ia bertanggung jawab terhadap generasi yang dilahirkannya sejak
ditiupkan ruh kehidupan pada janin. Peranannya tidak dapat ditandingi oleh
siapapun, Ibu adalah guru dunia.
Namun
hari ini, sebagaimana kita ketahui bersama, umat sedang mengalami dekadensi
moral dan terjangkiti penyakit-penyakit sosial yang semakin menggejala dan
menggurita. Akar persoalan yang kompleks dan membingungkan langkah-langkah
penyelesainnya. Di kampung, di kota, rumah, di sekolah, di pasar, di
gedung-gedung menjulang, di panggung perpolitikan, serta di semua lini
kehidupan.
Maka
fondasi perbaikan utama bangsa ini adalah Ibu. Dialah yang tangannya mampu
dengan lembut menggoyang ayunan dan sekaligus mengguncang dunia. Tugas kita
hari ini adalah mengembalikan peran-peran berikut actornya sesuai dengan porsi
masing-masing. Bermula dari kesadaran yang utuh tentang diri wanita, dengan
berbagai potensi yang dimilikinya, ia bermetamorfosis dari satu fase ke fase
berikutnya. Perubahan status pasca pernikahan, dalam kondisi ideal, ia akan
naik pangkat menjadi Ibu. Maka seyogyanya, seorang Ibu ditempatkan sebagai Ibu,
dihidupkan jati diri keibuannya sehingga ia bangga menjalankan kewajibannya.
Melahirkan, merawat, membesarkan dan mendidik anak-anaknya tanpa harus merasa
minder, rendah diri, atau terbelakang. Karena sesungguhnya peran-peran mulia
ini hanya akan terjalankan dengan baik jika para wanita –dalam hal ini –
khususnya Ibu yang menjalaninya.
Ada tiga
hal yang harus disadari para wanita, khususnya Ibu, berkaitan dengan perannya
di dalam rumah sebagai pendidik.
Pertama, di dalam al Quran akan banyak
ditemukan sami’un bashir, sama’ wal bashor, dan tidak ditemukan bashirun
sami’, atau bashor wa sama’. Atau dengan kata lain, Allah
mengedepankan kata sami’ sebelum bashir, pendengaran sebelum
penglihatan. Hal ini dimaknai mufassir sekaligus diungkap oleh penelitian bahwa
Allah lebih dulu menciptakan pendengaran sebelum penglihatan. Janin mampu
merekam setiap kejadian yang didengarnya di luar rahim. Aktivitas pendidikan
sudah dimulai. Secara alamiah anak akan mengadopsi emosi kejiwaan yang
ditularkan sang Ibu. Jika Ibu seorang yang hangat dan ramah, dapat diharapkan
anaknya pun demikian. Jika Ibu seorang keras dan dan selalu memaksakan kemauan,
akan tercermin pula dalam watak anaknya. Dalam buku karangan Yusuf Qardhawi
yang berjudul, “kaifa nata’amalu ma’al Qur’an” diceritakan, di Irak
terdapat seorang anak usia 9 tahun, sudah berhasil menghafal al Qur’an 30 juz,
300 hadits beserta sanadnya, dan menjelaskan isi buku-buku yang dibacanya.
Dalam suatu kesempatan Ibunya ditanya tentang metode apa yang ia praktekan
sehingga terlahir anak dengan kecerdasan demikian, maka jawaban sang ibu, “selama
saya mengandungnya, saya tidak pernah berhadats, senantiasa menjaga wudhu
walaupun tidak untuk shalat.”
Kedua,
secara psikologis, ikatan batin antara anak dan Ibu lebih kuat, karena pada
fitrahnya seorang Ibu memiliki banyak karakter kejiwaan yang dibutuhkan anak.
Ketika anak dilahirkan, teriakan tangisnya memberikan rasa rileks,
menghilangkan rasa lelah sang Ibu yang telah berjam-jam menjalani proses
persalinan. Kemudian dipandang dan ditimang, Ibu telah menyelesaikan satu tugas
yang tidak dapat dilakukan oleh kaum pria. Kontak fisik pertama kali ia alami
hanya dengan ibunya. Anak merasakan kasih sayang, indra peraba yang berkembang
cepat mampu membedakan antara sentuhan ibunya dan yang lain.
Ketiga,
secara kodrati, walaupun di zaman modern disajikan berbagai macam pilihan karir
untuk seorang wanita, tetapi tetap tak tergantikan, Ibu lebih baik dalam
melaksanakan tugas-tugas perawatan, ia
memiliki rasa kasih sayang yang lebih besar daripada seorang ayah. Oleh
karenanya interaksi yang didasari ketulusan dan kesabaran akan memudahkan
tersampaikannya nilai-nilai positif kepada anak. Di samping intensitas
kebersaman Ibu yang jauh lebih banyak dibanding ayah.
Nilai-nilai
pendidikan yang diajarkan Ibu kepada anaknya bukan sekedar bagaimana
menyelesaikan soal-soal matematika, fisika, biologi, bahasa Inggris, melainkan
suatu nilai kehidupan yang dapat dipastikan nilai-nilai tersebut belum tentu
didapatkan di lembaga-lembaga pendidikan. Seorang Ibu harus berjuang
mengokohkan prinsip-prinsip dan pemikiran yang matang dalam benak putra
putrinya. Keteladanan sifat-sifat yang baik, attitude dan nilai-nilai moral
akan mampu memberi inspirasi dan prototype bagi anak-anaknya. Banyak kita
ketahui bahwa dibalik keberhasilan seseorang selalu berdiri kokoh di
belakangnya seorang Ibu yang hebat.
Dedicated For My lovely Ukhti Muslimah, Happy Mothers Day, 22 Desember 2012




