Sabtu, 22 Desember 2012

Sekolah Pertama Itu Bernama Ibu

“Seorang perempuan adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjwaban atas kepemimpinannya.”
Secara structural kemasyarakatan, keluarga merupakan mini kingdom dan seorang Ibu adalah ratunya. Ia bertanggung jawab terhadap generasi yang dilahirkannya sejak ditiupkan ruh kehidupan pada janin. Peranannya tidak dapat ditandingi oleh siapapun, Ibu adalah guru dunia.

Namun hari ini, sebagaimana kita ketahui bersama, umat sedang mengalami dekadensi moral dan terjangkiti penyakit-penyakit sosial yang semakin menggejala dan menggurita. Akar persoalan yang kompleks dan membingungkan langkah-langkah penyelesainnya. Di kampung, di kota, rumah, di sekolah, di pasar, di gedung-gedung menjulang, di panggung perpolitikan, serta di semua lini kehidupan.

Maka fondasi perbaikan utama bangsa ini adalah Ibu. Dialah yang tangannya mampu dengan lembut menggoyang ayunan dan sekaligus mengguncang dunia. Tugas kita hari ini adalah mengembalikan peran-peran berikut actornya sesuai dengan porsi masing-masing. Bermula dari kesadaran yang utuh tentang diri wanita, dengan berbagai potensi yang dimilikinya, ia bermetamorfosis dari satu fase ke fase berikutnya. Perubahan status pasca pernikahan, dalam kondisi ideal, ia akan naik pangkat menjadi Ibu. Maka seyogyanya, seorang Ibu ditempatkan sebagai Ibu, dihidupkan jati diri keibuannya sehingga ia bangga menjalankan kewajibannya. 

Melahirkan, merawat, membesarkan dan mendidik anak-anaknya tanpa harus merasa minder, rendah diri, atau terbelakang. Karena sesungguhnya peran-peran mulia ini hanya akan terjalankan dengan baik jika para wanita –dalam hal ini – khususnya Ibu yang menjalaninya.
Ada tiga hal yang harus disadari para wanita, khususnya Ibu, berkaitan dengan perannya di dalam rumah sebagai pendidik.  

Pertama, di dalam al Quran akan banyak ditemukan sami’un bashir, sama’ wal bashor, dan tidak ditemukan bashirun sami’, atau bashor wa sama’. Atau dengan kata lain, Allah mengedepankan kata sami’ sebelum bashir, pendengaran sebelum penglihatan. Hal ini dimaknai mufassir sekaligus diungkap oleh penelitian bahwa Allah lebih dulu menciptakan pendengaran sebelum penglihatan. Janin mampu merekam setiap kejadian yang didengarnya di luar rahim. Aktivitas pendidikan sudah dimulai. Secara alamiah anak akan mengadopsi emosi kejiwaan yang ditularkan sang Ibu. Jika Ibu seorang yang hangat dan ramah, dapat diharapkan anaknya pun demikian. Jika Ibu seorang keras dan dan selalu memaksakan kemauan, akan tercermin pula dalam watak anaknya. Dalam buku karangan Yusuf Qardhawi yang berjudul, “kaifa nata’amalu ma’al Qur’an” diceritakan, di Irak terdapat seorang anak usia 9 tahun, sudah berhasil menghafal al Qur’an 30 juz, 300 hadits beserta sanadnya, dan menjelaskan isi buku-buku yang dibacanya. Dalam suatu kesempatan Ibunya ditanya tentang metode apa yang ia praktekan sehingga terlahir anak dengan kecerdasan demikian, maka jawaban sang ibu, “selama saya mengandungnya, saya tidak pernah berhadats, senantiasa menjaga wudhu walaupun tidak untuk shalat.”


Kedua, secara psikologis, ikatan batin antara anak dan Ibu lebih kuat, karena pada fitrahnya seorang Ibu memiliki banyak karakter kejiwaan yang dibutuhkan anak. Ketika anak dilahirkan, teriakan tangisnya memberikan rasa rileks, menghilangkan rasa lelah sang Ibu yang telah berjam-jam menjalani proses persalinan. Kemudian dipandang dan ditimang, Ibu telah menyelesaikan satu tugas yang tidak dapat dilakukan oleh kaum pria. Kontak fisik pertama kali ia alami hanya dengan ibunya. Anak merasakan kasih sayang, indra peraba yang berkembang cepat mampu membedakan antara sentuhan ibunya dan yang lain.

Ketiga, secara kodrati, walaupun di zaman modern disajikan berbagai macam pilihan karir untuk seorang wanita, tetapi tetap tak tergantikan, Ibu lebih baik dalam melaksanakan tugas-tugas perawatan,  ia memiliki rasa kasih sayang yang lebih besar daripada seorang ayah. Oleh karenanya interaksi yang didasari ketulusan dan kesabaran akan memudahkan tersampaikannya nilai-nilai positif kepada anak. Di samping intensitas kebersaman Ibu yang jauh lebih banyak dibanding ayah.

Nilai-nilai pendidikan yang diajarkan Ibu kepada anaknya bukan sekedar bagaimana menyelesaikan soal-soal matematika, fisika, biologi, bahasa Inggris, melainkan suatu nilai kehidupan yang dapat dipastikan nilai-nilai tersebut belum tentu didapatkan di lembaga-lembaga pendidikan. Seorang Ibu harus berjuang mengokohkan prinsip-prinsip dan pemikiran yang matang dalam benak putra putrinya. Keteladanan sifat-sifat yang baik, attitude dan nilai-nilai moral akan mampu memberi inspirasi dan prototype bagi anak-anaknya. Banyak kita ketahui bahwa dibalik keberhasilan seseorang selalu berdiri kokoh di belakangnya seorang Ibu yang hebat.






Dedicated For My lovely Ukhti Muslimah, Happy Mothers Day, 22 Desember 2012

Tentang Mereka Yang Merindukanmu…


Dalam sebuah focus group discussion (FGD), berkumpulah para mahasiswa dari berbagai belahan nusantara, dengan macam-macam latar belakang suku, intelektualitas, dan spesialisasi keahlian. Setelah beberapa menit dimanfaatkan masing-masing kelompok untuk berdiskusi, tibalah saatnya kesempatan bagi mereka untuk menyajikan hasil diskusi di depan forum.
Topic yang menjadi bahan perbincangan terbilang sederhana, “apakah kita wajib terikat dengan satu madzhab?”,

Seorang juru bicara suatu kelompok menyampaikan statement berikut argumentasinya. Retorika yang panjang berdasarkan pada logika dan pemahamannya. Lalu saling bersahutan dengan juru bicara dari kelompok yang lain. Masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya. Gaduh.
Singkat cerita, do’a kafaratul majlis membubarkan peserta FGD. Mungkin pada sebagian hati terselit kekesalan, kepuasan, dan lain lain-lain berkenaan dengan perjuangannya mempertahankan pendapat.

Penulis yakin, kisah seperti ini banyak mewarnai moment-moment perjalanan kita sebagai mahasiswa. Inilah gambaran nyata, fenomena kegagapan teman-teman kita di belahan nusantara tentang kebutuhannya akan sosok du’at untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang melanda sebagian besar masyarakat kita.

Ada sejumlah pertanyaan – khususnya tentang abwab aqidah dan fiqhiyyah – yang sangat diharapkan jawaban bijak atasnya, lalu mereka kebingungan pada siapa pertanyaan itu harus diajukan. Di tengah lesatan kemajuan teknologi informasi, maka pada akhirnya pertanyaan itu diketik di kolom search prof google. Lalu munculah jawabannya. Tidak peduli, benar atau salah.

Fakta lain, kondisi di atas mungkin juga berbeda dengan situasi kita. Mahasiswa mulia yang setiap hari disuapi arab-arab gundul, ceramah-ceramah bijak para ustadz, arus ideology homogen, nyaris tidak ada perbedaan. Comfortable. Islam itu di sini. Surga terasa dekat.
“teman, di dunia ini masih banyak yang membutuhkan tenagamu…”- New Police Story

Dunia itu mungkin kampung halaman kita, mungkin juga teman-teman perjuangan kita di kampus-kampus lain. Mereka yang setiap hari mengkontraksikan otot-ototnya demi memertahankan keimanan, ideology Islam yang dianutnya setiap saat berpeluang diobrak-abrik, dibuat seperti kapal pecah, hingga tidak jelas proyeksi dan bentuknya.

Di pelosok-pelosok negeri yang mungkin kebanyakan kita berasal dari sana, meronta-ronta jiwa yang kebingungan dengan apa cintanya kepada Tuhan dan utusanNya harus diejawantahkan. Tidak tahu, iya. Mereka duduk berkumpul, lisannya berlumuran dengan dzikir, beribu-ribu. Tidak ada urusan ini harus dilakukan atau tidak, hanya konon, menurut pak Yai, jika ini dilakukan akan berkhasiat anu dan anu.
Belum lagi fenomena penghancuran ideology masyarakat melalui tayangan-tayangan televisi, semua disulap dengan lincah agar klise-klisenya dibenarkan oleh logika masyarakat. MBA, narkoba, broken home, dkk, naik statusnya dari tabu menjadi biasa. Bahkan ironisnya, dikatakan asing jika seluruh rangkaian hidup dijalankan dengan baik dan ideal menurut Islam.

Dalam pertempuran ini, di mana posisi kita? Karena dalam arus kehidupan ini hanya ada dua aliran ; perbaikan dan perusakan. Jika kita tidak aktif dalam agenda-agenda perbaikan, maka bisa jadi diamnya kita adalah aktivitas perusakan.

Relakah panggung-panggung dongeng kehidupan ini diperani oleh mereka yang tidak menginginkan kebaikan kecuali hanya untuk diri dan kelompoknya, lalu kita tersisih sebagai pemain yang ragu-ragu dan tidak punya kapabilitas?
Mari kita siapkan secukup-cukup bekal, sebaik-baik pantas, untuk suatu hari, yang bisa jadi hari itu adalah hari ini atau esok, kita akan menemui orang-orang yang menantikan kehadiran kita, merindukan sosok-sosok du’at yang bertatahkan emas, kualitasnya baik, dan mereka harapkan tindakan-tindakannya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Dan sekali lagi, du’at terbaik yang bertatahkan emas menurut persepsi mereka adalah KITA.
Allahu a’lam, semoga berbekas kemanfaatan.


Jumat, 14 Desember 2012

Islamisasi Watak



Kesaksian lelaki legam itu mengakhiri masa perbudakannya. Ia berislam di tangan Abu Bakr Ash Shiddiq ra. Dua kalimah syahadat benar-benar mengubah kedudukannya. Status sosial “budak” diangkat oleh Rasulullah menjadi muadzin dan tidak segan bagi Amirul Mukminin Umar ra ketika disebutkan di hdapannya nama Abu Bakr, maka ia berujar, “Abu Bakr sayyiduna wa a’taqo sayyidana”. Sayyid, tuan, sebutan itu yang Umar panggilkan kepada orang Habasyi itu, Bilal bin Rabah.
 
Selalu ada penderitaan sebelum kemenangan. Harus ada tangisan darah dalam perjuangan. Bilal, lelaki yang masuk surga sebelum mati itu harus menanggung siksaan dari majikannya yang dzalim, Umayyah. Di terik panggangan gurun, jasadnya ditimpai bongkahan batu besar. Hina, sehina hinanya Bilal. Budak yang tak berharga, membangkang pada sang tuan. Itu kacamata Umayyah. Sedangkan RabbNya menghendaki ia menuju langit kemuliaan. Keyakinannya tidak goyah semata karena takut pada ia yang memberinya makan. Ahad, ahad, ahad, ideology tauhid itu sudah mengakar kuat. Mengusir rasa takut dan khawatir. Hanya keyakinan, murni, tanpa ada campuran keraguan setitik pun.

Demikian halnya dengan pemuda tampan yang syahid di medan Uhud itu. Sikap protes Ibunya tidak membuatnya bergeming. Tauhid harga mati.
Demikian penggalan kisah silam. Cerita manusia-manusia pertama yang Allah pilih untuk mendampingi kekasihnya. Jenak-jenak yang tidak mungkin berulang.

Yang harus kita lakukan di abad 15 belas catatan sejarah peradaban Islam tentu bukan meratapi atau berandai-andai masa kenabian itu diputar ulang. Mustahil. Karena Allah sudah mengakhiri pengutusan Rasulullah dengan diturunkannya Muhammad saw. Tugas kita hari ini adalah bagaimana menerjemahkan kemenangan-kemenangan sejarah menjadi cara untuk memenangkan kembali Islam hari ini.

Tentu ada kondisi yang kontradiktif. Sejarah menggambarkan, Islam Allah turunkan kal itu ibarat lilin, dinyalakan dalam sumbu hati sebagian kecil manusia di tengah masyarakat jahiliyyah. Kaum minoritas itu dihadang berbagai ancaman, siksaan, real, hingga wafatnya Khadijah ra pasca pemboikotan kuffar terhadap kaum muslimin. Kecil, namun kekuatannya mampu mengusir jahiliyyah dari tanah Makkah. Bagaimana bisa? Sedangkan hari ini, khususnya di Negara Indonesia, Islam sebatas bahasa persentase, sekian pemeluk dari sekian ratus juta penduduk. Besaran jumlahnya tidak menjadi isyarat kejayaannya. Bahkan kadang, mendengar kata “muslim” “Islam” diidentikan dengan kemunduran; miskin, terror, lemah intelektual, gagap.

Rupanya ada perbedaan yang sangat kontras antara sikap jiwa kaum muslimin di 15 abad lalu dan hari ini. Saat itu, Islam mewatak dalam jiwa kaum muslimin. Kita lihat bagaimana Bilal dengan begitu idealis mempertahankan aqidahnya di hadapan majikan. Mush’ab yang tidak merasa takut kehilangan keluarga, dibenci, ditinggalkan. Itu hanya gebrakan kecil. Masih terbentang medan ujian di hadapannya. Begitu pula dengan penduduk Yatsrib, dedikasinya kepada dakwah Rasulullah saw membuat mereka mendapat sebutan yang tidak diberikan pada kaum lain, Anshor (penolong). Demikian halnya dengan para shahabiyyat, Asma, Aisyah, Khonsa., dan lain-lain. Gambaran-gambaran ini yang memberi tahu kepada kita bahwa pernah ada suatu masa di mana Islam mendarah daging dalam jiwa-jiwa pemeluknya. Dan ini yang belum dimilki sebagian besar umat Islam hari ini. Islam belum menjadi watak. Islam kita baru sebatas ritual-ritual pemenuhan rukun Islam. Yang berislam baru anggota tubuh yang kita libatkan dalam ritual tersebut. Sementara watak masih terkontaminasi oleh nilai-nilai jahiliyyah.

Maka pertanyaan ‘mengapa Islam terpuruk’ tidak begitu sulit untuk menjawabnya. Karena Islam belum menjadi watak. Andai watak sudah berislam, seharusnya hal-hal kecil seperti kesukuan, budaya dan kebiasaan-kebiasaan remeh tidak layak disandingkan dengan Islam bahkan sampai mengalahkannya. Fanatisme mazhab, partai, golongan, hanya akan merusak pesona Islam bukan meninggikannya. Watak, karakter, dari sudut terkecil hingga yang terbesar, di sanalah seharusnya Islam menjadi warna.

Fenomena yang sangat mencekam ketika kondisi umat diombang ambing senjata pemusnah iman dan moral para musuh lalu kaum muslimin masih berkecimpung dengan egoisme golongan, menyalahkan suadaranya yang tidak semadzhab, menjatuhkan ikhwahnya hanya karena berbeda pandang. Sungguh naïf. Karena yang hidup di zaman Rasulullah saw juga spesies manusia yang sama dengan hari ini. Pasti di sana ada ikhtilaf, ada perselisihan. Tapi Islam tetap dengan pesonanya. Sebab dalam jiwa-jiwa yang diselimuti iman ada kekuatan untuk mengalahkan watak kemanusiaan dengan watak keislaman. Keberadaan mereka menjadi sumber daya. Islam menjadi bahan bakar pergerakan. Walau ada kekecewaan, walau ada pertentangan, manusia berwatak Islam yang digambarkan sejarah tetap berkenan saling merendahkan hati. Watak inilah yang penulis buku “Dari Gerakan Ke Negara”, Anis Matta maksudkan, karakter mendasar yang menjadi kunci suksesnya amal jama’i ini.
Allahu a’lam.

Kamis, 13 Desember 2012

Muslimah di Luar Muslimah di Dalam


Langkahnya diayun anggun. Sorot matanya teduh, senyumnya menentramkan yang memandang. Tutur bahasa nan lembut membuat para pemuda yang dilewatinya terpesona. Balutan rapih jilbab dan gaun muslimahnya menjadi identitas keshalihan, kedekatan dengan Rabbnya, kemapanan ilmu dan kematangan kepribadian. Tak ayal, ia pun mendapatkan perlaukan berbeda dari para pemuda. Mereka menggodanya bukan dengan siulan atau guyonan “cewek…” melainkan “assalamu’alaikum”. Pada kesempatan lain terkadang mereka melontarkan kalimat yang lebih ekspresif, tanpa beban, “yang kayak begini nih calon bini bener…!”

Itulah gambaran ekspektasi masyarakat pada sosok ukhti muslimah. Kehadirannya dianggap mampu menjadi penuntas perbaikan-perbaikan umat. Karena di zaman yang serba permisif ini, kontribusi muslimah sangat dituntut untuk menjadi penyeimbang, meluruskan pemahaman-pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai dan amal-amal islami.

Maka tidak perlu dipertanyakan hendak kemana ukhti muslimah melenggang pergi. Ia menuju panggung pertemuan dengan para mad’u (objek dakwah). Apakah itu mengajar di perkantoran, private, majlis taklim, aktif di organisasi mahasiwa, LSM, bahkan kepartaian. Tidak berlebihan jika ia dipanggil ustadzah, amah, bu guru, dan lain-lain.
Ukhti muslimah yang mahasiswa, akan bejibaku dengan aktivitas di luar kampus. Kekakuan interaksi antara dirinya dengan lawan jenis menuntutnya untuk serba bisa. Melindungi diri, mengusahakan kepentingan pribadi, dan sebagainya. Oleh karena itu, branding akhwat tangguh dan serba bisa sudah menjadi merek paten seorang ukhti muslimah.

Menjelang magrib atau bahkan ba’da isya, ia baru muncul lagi di markaz; kosan, rumah, atau asrama. Wajahnya lusuh, semerbak aroma tubuhnya berbeda dengan aroma kepergiannya. Maklum, mungkin di kopaja berdesak-desakan, panas, polusi, entahlah. Di tangannya ditenteng keresek hitam, biasanya berisi makanan untuk makan malam. Kepadatan aktivitasnya membuat ia kurang begitu memerhatikan hak-hak tubuhnya, terutama makan. Hanya do’a untukmu dimunajatkan, semoga pengorbananmu menjadi saksi dan pemberat amal baik di yaumil akhir.

Karena merasa lelah dengan aktivitas di luar rumah, ukhti muslimah memilih untuk duduk-duduk di depan televisi guna melepaskan kepenatan. Ia membuka makanan dan menyantapnya. Karena penghuni rumah dipastikan mahram semua, kaos kaki dan jilbab ditanggalkannya. Setelah berbincang-bincang, saling mencicipi menu-menu yang terhidang, dan merasa sudah memenuhi hak perutnya, ia kembali pada dua pilihan agenda, menghibur diri atau mengistrahatkannya. Menghibur diri bisa dengan nonton, mantengin jejaring social, dan lain-lain.

Lagi-lagi karena merasa lelah, ukhti tidak sempat lagi mencuci piring, membereskan dapur, menampung sampah di tempatnya, membereskan kamar, atau bahkan mencuci tubuh sendiri. Kadang-kadang, ia juga lupa menyimpan aksesoris khas – kaos kaki – pada tempatnya. Jangan aneh andai suatu hari silaturahim ke rumahnya ditemukan kursi berkaos kaki atau berjilbab, itulah dapur aslinya.

Namun ukhti, pemakluman ini tidak layak diperpanjang. Harus ada perombakan dapur agar ukhti muslimah menjadi perempuan mempesona diluar dan di dalam rumah. Vitalitas energiknya di luar, harus pula mampu menuntaskan tugas tugas perempuan di dalam rumah. Ironis dan tidak patut, jika di luar berperan sebagai ustadzah, mengurusi hal-hal besar, menuntaskan problematika umat, bejibaku sibuk sana sini, namun sesampainya di rumah, ia seketika menjelma menjadi sosok yang tidak berkarakter, tanpa kepribadian dengan sikap-sikapnya yang membuat orang lain tidak nyaman dan merasa terbebani. Hak-hak dirinya tidak ditunaikan. Aroma jasad yang membuat teman di sekitarnya mual-mual tak diperdulikan. Kamar tidur yang konon disebut mirip kapal pecah tidak merasa mengusik kenyamanan. Sampah dan piring kotor jejak pemenuhan panggilan perutnya, berserakan begitu saja, tanpa difikirkan bahwa itu menjadi beban bagi orang lain. Minimal beban pandangan. Kita mungkin merasa tidak masalah dengan hal itu, tetapi belum tentu dengan saudara kita. Belum lagi kaos kaki, baju kotor yang direndam berhari-hari. Dan masih banyak lagi.

Mungkin inilah jawaban sederhana mengapa Islam yang kita banggakan, kita propogandakan sebagai solusi baru sebatas rasa percaya diri kita saja. Ruh Islam sebagai solusi belum dirasakan oleh masyarakat luas. Karena ternyata Islam sebagai sistem yang sempurna belum menjadi watak para penyerunya. Islam baru sebatas topic menarik yang dibincang-bincangkan antara ustadzah dan mustami’, antara daiyyah dan mad’u.

Bagaimana hal-hal besar akan dimenangkan, akan berhasil dimasuki nilai-nilai Islam jika pada hal-hal sepele nila-nilai Islam masih disingkirkan. Kebersihan, kenyamanan, kerapihan dan kecantikan. Pengerjaannya bukan semata-mata terobsesi pada siapa yang memandang di luar, melainkan mereka yang paling dekat dengan kita. Teman serumah, sekamar, atau tetangga, atau lebih privasi dari itu, diri kita lah yang akan menikmati kerja-kerja keresikan, perawatan terhadap diri sendiri itu.

Sesekali boleh dimaklumi kelelahannya, tetapi sejatinya, lelah dan tidak itu mentalitas. Berangkat dari kebiasaan-kebiasaan kecil, pembenahan pola fikir ‘penataan urusan-urusan kecil adalah pembelajaran menuju penyelesaian hal-hal besar’. Miris andai kebiasaan buruk ini terbawa ke pernikahan, lalu diwariskan pada generasi berikutnya. Bukankah penipuan andai di luar terlihat menawan ternyata di dalam mengerikan?

Yuk, berbenah…

Senin, 10 Desember 2012

Love You, Wat...

Partner Adam yang satu ini memang sangat istimewa. Dihiaskan keindahan pada tubuhnya, kecantikan pada wajahnya, kelembutan pada tuturnya, ketentraman pada senyumnya, keteduhan pada sorot matanya. Di pundaknya menggunung tugas-tugas mulia. Menjadi hamba Allah, istri, ibu, anak dan menantu serta anggota masyarakat.
Pepatah bijak mengatakan "wanita merupakan representasi suatu bangsa". Jika baik wanitanya maka baik pula pemimpin dan bangsa di suatu negeri, begitu pula kebalikannya. Karena dari rahimnya lahir keturunan, generasi kehidupan setelahnya. Dari ayunannya pula lahir para pejuang, negarawan atau penghancur negara, pemimpin atau pengikut, pemenang atau pecundang, dan sebagainya. Ya, karakter-karakter itu sudah ditentukan sejak ia dalam buaian wanita yang melahirkannya. Jabatan yang sangat strategis bukan?
Sayangnya, di tengah persoalan umat yang kian menggurita di berbagai lini kehidupan, wanita yang seharusnya turut serta menjadi penuntas hampir saja tumpas izzahnya karena missaware akan "kewanitaannya". Kalau sudah begitu, bagaimana langkah perbaikan umat akan berjalan baik?
Oleh karena itu, tanpa menunda perbaikan-perbaikan di luar rumah, alangkah seimbangnya andaikata kemapanan pribadi wanita dimiliki seorang aktivis di luar dan di dalam rumah. Ini dia beberapa hal yang sering diabaikan wanita (khususnya aktivis) yang bejibaku dengan aktivitas di luar rumah.
1. Hak-hak tubuhnya : Fenomena yang sangat marak, suguhan suguhan praktis kepada kaum wanita memang sangat menggda. Mulai dari makanan, kosmetik, pakaian, obat-obatan, dan lain-lain. Makanan berbahaya yang paling sulit dihindari adalah gorengan, baik yang berupa gorengan dua ribu tiga, nasi goreng, bangsa pecel, dan kawan-kawannya. Selain itu sering pula tidak terperhatikan komposisi makanan yang disantap sehari-harinya. Demikian halnya dengan olahraga, kegiatan ini dianggap tidak penting. Entahlah...
2. Hak-hak akalnya : Miris memang, ketika wanita muslimah dituntut untuk banyak kontribusi di luar, ia akan pulang dengan sisa-sisa tenaga. Tidak ada energi tambahan untuk membaca buku, diskusi atau menulis (kalo nulis status sih ga kelewat). Buku-buku kadang hanya menjadi sarang debu. Wawasannya menjadi terbatas dan kaku dengan informasi terbaru.
3. Hak-hak lingkungan tinggalnya. Wanita Muslimah yang dikenal hebat di depan pintu, seharunya hebat pula sosoknya di balik pintu alias di dalam rumah. Alangkah menipu andai di luar terpancar pesonanya, ternyata di dalam rumah joroknya tidak ketulungan. Pakaian direndam berhari-hari, westafel dipenuhi piring-piring kotor, kamar disarangi debu, handuk, kaos kaki, jilbab,,, bergelantungan bukan pada tempatnya.
Tiga hal di atas terkesan hal sepele. Namun bagaimana persoalan-persoalan besar akan terselesaikan jika yang sepele masih diabaikan. Tawaran solusinya sebagai berikut:
a. Perbanyak membaca. Sudah diketahui bersama bahwa membaca merupakan perintah pertama dari Allah kepada RasulNya. Karena pekerjaan ini merupakan kunci terbukanya pengetahuan-pengetahuan. Di samping membaca buku-buku "berat", cobalah sesekali bertandang pada buku-buku "soft" tentang kesehatan, pola makan, pola hidup, psikologi, hubungan antar personal, dan masih banyak lagi. Karena di tengah peperangan pemikiran hari ini, wanita Muslimah dituntut serba tahu, serba mampu dan berani. Wanita muslimah dibutuhkan perannya untuk membuka buhul buhul kebingungan umat. Pengetahuan luas juga akan membentuk karakter yang mapan menuju keseimbangan. Idealnya ia mengagendakan beli buku setiap bulannya, minimal satu buku. Di sini dituntut kemampuan memenej keuangan bulanan yang biasanya rebutan dengan anggaran makan, kosan, dan wara wiri.
b. Hemat waktu. Bagi para penggiat kebaikan, 24 jam waktu bumi mengitari matahari ini tidak cukup. Ia berharap bumi berputar lebih lambat agar tumpukan tugasnya dapat diselesaikan dengan baik di masing-masing hari. Tetapi ini hanya sebatas perandaian, akal manusia sangat terbatas. Solusinya adalah hemat waktu, gunakan dengan baik, jangan dibuang-buang, karena waktu tidak dijual belikan. Sudah seharunya wanita muslimah menjaga jarak dengan televisi, facebook, mengobrol yang sia-sia atau berlama-lama makan.
c. Action Now. Ketika kesadaran akan pentingnya membaca dan memanfaatkan waktu mulai bersemi, jangan menunggu pagi untuk perubahan. Jangan menunggu teman agar tidak sendirian. "Tetaplah dalam kebenaran walau engkau sendirian" begitu ujar syeikhu at tarbiyyah. Sebab kekalahan dan kemenangan esok kita tentukan hari ini. Kita rintis dari kebiasaan kebiasaan kecil, sepele dan nampak tidak diperthitungkan oleh orang lain. Mungkin kita juga akan terasing, sikap-sikap hidup yang kita pilih ternyata tidak banyak dipilih. Namun tidak masalah. Sunnatullah. Kebaikan hanya akan dilakukan oleh segelintir kecil.
 
Demikian tipsnya, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Andai ada yang tersinggung atau merasa kurang berkenan, mohon dimaafkan. Love you, Wat... sengaja disusun sebagai salah satu indikasi kecintaan penulis kepada para akhwat muslimah. Allahu a'lam...