Disadari atau tidak, keberadaan kita kini, dimana pun, tidak terlepas dari keinginan. Karena keinginan itulah yang mendorong kita untuk bertadhiyah demi mencapainya. Keinginan itu yang jika dibungkus dalam skala besar, tepatnya dapat kita sebut mimpi. Sebagaimana nasehat Imam Hasan Al Banna, ahlaamul yaum haqoiqu al ghod, mimpi hari ini kenyataan esok. Dan sesungguhnya mimpi-mimpi itulah proyek besar kita untuk merintis kenangan yang indah di masa depan.
Begitu pula dengan kehadiran kami di MQN (Mukhoyam Al Quran Nasional), tidak mungkin luput dari sebersit keinginan yang tentu saja bertepatan dengan restu Allah swt. Kami berkumpul semata-mata untuk membulatkan tekad bersama al Quran sepanjang hidup kami. Kami datang untuk sama-sama meriuh rendahkan setiap sudut ruangan dengan lafaz lafaz suci Al Quran. Target enam puluh juz tilawah, qiyamul lail tiga juz/malam, setoran murojaah minimal empat juz dan di hari terakhir ditutup dengan ujian sebanyak juz yang disetorkan. Maka karena angka-angka itu, tidak ada yang menyibukkan kami selain bagaimana agar target itu tercapai. Karena jika tidak, sebagai kopasus al Quran, slogan kami adalah “lebih baik pulang nama daripada target tidak tercapai”.
Jam 02.00 kami terbangun untuk sahur dengan menu tiga juz al Quran dalam qiyamul lail berjamaah, sarapan pagi setoran murojaah, coffe break taujih Qurani, makan siang setoran, dan makan malam setoran ditutup dengan cuci mulut taujih Qurani. Pemandangan yang haru sekaligus lucu terjadi ketika kami melangsungkan qiyamul lail. Maklum, biasa qiyamul lail membaca surat-surat pilihan terpendek di antara yang pendek, MQN memberikan sajian yang plus plus, tiga juz dibagi delapan rakaat, jika dibagi rata-rata menjadi setengah juz kurang untuk masing-masing rakaat. Sejatinya tidak lama, hanya memakan waktu seperempat jam per rakaat, tetapi tak enyah kaki kami dari pegal, maka jangan heran jika kaki kami sesekali bergerak ke depan bergantian kiri kanan, atau ditekuk untuk mengabulkan permintaan otot-otot lutut. Jika dalam surat al Anfal disebutkan ciri-ciri orang mukmin adalah dia yang bergetar hatinya ketika dibacakan ayat-ayat Allah, maka dalam qiyamul lail adalah dia yang wajilat lututuhum, bergetar lututnya. J
Mushaf yang nyaris jatuh dari genggaman ketika qiyamul lail, juga menjadi cerita masing-masing yang mengalaminya. Bolak-balik keluar shof untuk memperbaharui wudhu, sujud tidak bangun lagi, atau konon di kalangan ikhwan ada yang menggantungkan jarinya di sela-sela kancing baju adalah lelucon nyata di antara kami. Lalu bagaimana jika Allah takdirkan kita menjadi Hudzaifah bin al Yaman yang bermakmum di belakang Rasulullah saw, lalu dibacakan surat al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa dalam satu rakaat? Allahummaj’alna min ahlil Quran.
Tetapi di rakaat terakhir witir, suasana akan berubah seratus delapan puluh derajat. Kantuk hilang, angin pembatal senyap, lutut pun tegak berdiri. Adakah ini karena pertanda qiyamul lail malam itu akan segera berakhir? Nampaknya bukan, melainkan lantunan doa-doa dalam qunut nazilah. Nada tangisan kami semakin melengking, masjid akan gaduh dengan ratapan penuh pengharapan manakala imam berdoa allahumaj’alna wa ahlana min ahlil Quran alladzina hum ahluka wa khoshshotuk, robbighfirlana wa liwalidaina, allahummanshur mujahidina fi Filisthin, Iraq, Afghan, Syiria, allahumma ahlik al yahud wa nashoro, allahumma a’izza al Islama wal muslimin.
Itulah lebih kurang gambaran aktivitas kami di sana. Meskipun dikatakan oleh seorang muwajjih, tidak ada yang membanggakan dari orang-orang seusia kita baru menghapal al Quran, karena seharusnya agenda ini sudah selesai di usia remaja, namun kami tetap merasa bahagia atas izin Allah hingga mengantarkan kita di tempat itu, dan kami juga tak dapat menahan cucuran air mata ketika di hari terakhir kami harus berpisah dan dikembalikan ke dunia nyata. Entahlah, batin kami bergejolak, antara siap dan tidak. Andai mampu, hasrat kami meminta pertemuan ini lebih lama. Tetapi kami bergegas menyadari, mujahadah akan terasa manakala kita keluar dari comfort zone lalu mengerahkan sekuat tenaga untuk mempertahankan spirit mukhoyam ke mukhoyam berikutnya. Alhamdulillah, dari mukhoyam kami mengerti perkataan ini, “Al Quran adalah jendela yang membuat kita mengerti betapa hidup ini luas dan indah” - Sayyid Quthb.
Terangkai dari ini semua, keinginan kami tidak terputus, ingin suatu hari kami berkumpul kembali untuk tekad yang sama yaitu bersama al Quran, baik dalam MQN 3 atau moment yang lain. Ingin suatu saat kami berkumpul dalam semangat ta’abbudi untuk kembali qiyam dengan surat-surat yang lebih panjang dan sangat nikmat nampaknya jika hafalan kami sudah sempurna tiga puluh juz mutqin. Sehingga sikut kami tidak perlu gemetaran karena memegangi mushaf. Ingin al Quran itu berada seutuhnya di dada kami.
Terima kasih para du’at yang tetap konsisten menyeru kebaikan dan menghindarkan saudaranya dari kemunkaran, tiada yang dapat membalasmu kecuali Allah, karena balasannya adalah balasan terbaik yaitu jannatullah. Terima kasih sahabat yang berkenan membaca catatan ini. Semoga Allah wafatkan kita dalam kenikmatan berinteraksi dengan al Quran hingga kita berkumpul di FirdausNya. Aamin.
Ya Allah, berikan cahaya kepada hati kami dengan tilawah Al Quran
Baguskan akhlaq kami sesuai dengan akhlaq al Quran
Indahkan akhlaq kami dengan akhlaq al Quran
Baguskan amal-amal kami dengan selalu berdzikir murojaah al Quran
Dan putihkanlah wajah kami, berserikanlah wajah kami dengan perantara Al Quran
Lindungi kami dari azabMu karena kami di dunia bersama al Quran
Terangilah kuburan-kuburan kami dengan cahaya al Quran
Dan masukanlah kami ke surgaMu dengan syafaat al Quran
Jangan Kau cabut kecintaan kami kepadaMu dan kecintaan kami kepada Al Quran
Jadikanlah kami saling membela dengan suadara-saudara kami karena kami telah berkumpul di sini untuk sama-sama membulatkan tekad bersama al Quran sepanjang hidup kami
Jadikan al Quran ini perantara untuk kami bertemu dengan Rasulullah, berulang-ulang kami tilawah menyebut Rasul Rasul, pertemukanlah kami ya Allah, kami setiap kali menyebut nama RasulMu, kami senantiasa merasakan rindu yang mendalam terhadap baginda RasulMu
Kuatkan kami di saat kami futur ya Allah,
Kuatkan kami di saat kami lemah ya Allah
Kuatkan kami saat kami malas ya Allah
Bangkitkan kami saat kami tidak berdaya menghadapi keterbatasan
Kuatkan kami saat sendirian bersama al Quran
Kuatkan kami saat kami berdakwah membangun umat ini tetap bersama al Quran
Dan cabutlah nyawa kami saat kami membaca al Quran seperti para pendahulu kami yang Engkau wafatkan ketika mereka bersama al Quran, sehingga kami menjadi layak untuk disandingkan dengan mereka di hadapanMu kelak.
Rabbana Atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah, wa qina adzabannar.
Tulisan ini sengaja disusun semata berbagi kepada sahabat-sahabat yang belum berkesempatan untuk merasakan kenikmatan bersama al Quran dalam Mukhoyam Al Quran Nasional Akhwat yang diselenggarakn para du’at dibawah binaan Al Ustadz Abdul Aziz Abdur Rouf, al Hafidz, Lc. pada tanggal 2-7 April 2013 di Yogyakarta. Penulis yakin, meskipun belum berkesempatan turut serta, sahabat pasti senantiasa mengecapi kenikmatan bersama al Quran di tempat yang berbeda.