لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ
“mereka tidak seluruhnya sama, di antara ahlil kitab
terdapat orang yang membaca ayat-ayat Allah sepanjang malam dan mereka bersujud
(salat)” –Ali Imran 113–
Lebih kurang delapan bulan pasca mengikuti Mukhoyam Al Quran
Nasional (MQN) Akhwat Periode kesatu yang diadakan di Cianjur pada tanggal
11-16 September 2012, kedekatan antara jiwa dan al Quran seperti merenggang
kembali. Interaksi yang hangat dengannya pada saat Mukhoyam tak dapat
dipertahankan hingga Mukhoyam periode kedua. Untuk itu, penulis berusaha
mengenang kembali suasana MQN 1 dengan membuka lembaran-lembaran catatan buah
tangan dari acara tersebut.
Karena bagi penulis pribadi, MQN merupakan kesempatan yang sangat
langka dan mahal. Bagaimana tidak, di tengah gencar-gencirnya musuh-musuh Islam
menyerang berbagai sendi kehidupan umat, degradasi moral merebak di mana-mana,
kok masih ada sekelompok kaum muslimin yang berkhidmat pada kitabullah. Merelakan
waktu untuk berlama-lama duduk dengan al Quran, menyibukan lisan membacanya,
meriuh rendahkan suasana ruangan dengan ayat-ayat Allah, tidak sungkan-sungkan
pula mengeluarkan biaya ratusan juta untuk mengumpulkan para huffadz di suatu
tempat demi terhidupkannya suasana Qurani dan masih banyak pengorbanan lain
yang tak terhitung nilainya.
Dalam waktu yang hanya enam hari itu, kami berkumpul dengan satu
misi yang sama, hidupkan Al Quran. Di tempat itu hanya akan dijumpai huffadzul
Quran saja. Pojokan, sudut ruangan, aula, villa, taman-taman, di bawah pohon
rindang, hanya akan didengar ayat-ayat Allah. tidak ada yang menghentikan
interaksi kami dengan al Quran kecuali hidangan yang merebakkan aroma sedap
untuk disantap. Makanan itu akan disajikan setiap waktu, sehingga tak ada rasa
lapar menghinggapi perut kami. Jika selesai dari hidangan itu, kami akan
kembali bergegas memburu al Quran. Kami tidur lebih kurang empat jam, yaitu
dari jam 22.00-01.00 dini hari. Kami dibangunkan untuk shalat malam diimami
hafidz dengan bacaan surat sebanyak tiga juz. Selanjutnya jika masih tersisa
waktu sebelum subuh, panitia akan menggunakannya untuk program tasmi’. Kami menyimak
hafalan huffadz dari panitia ikhwan. Setelah shalat subuh, masing-masing
individu kembali membasahi lisan-lisannya dengan al Quran. Kami sama-sama ingin
memenuhi target tilawah 10 juz per hari agar dapat mencapai dua kali khotam
selama MQN. Kami juga berkewajiban menyetorkan hafalan baru dan murojaah kepada
ustadz yang ditentukan oleh panitia. Ini hanya gambaran singkat rutinitas kami,
kenikmatannya jauh lebih manis dari yang dibayangkan. Di akhir acara, kami
tidak dapat menahan mata yang berkaca-kaca dengan linangan air. Kami menangis
menyesalkan pertemuan yang hanya sejenak ini. Berat batin kami untuk kembali ke
dunia nyata dimana kami harus berperang melawan kemalasan dan harus bermujahadah
mempertahankan semangat Qurani yang dibentuk selama Mukhoyam.
Itung-itung review petuah-petuah Qurani yang disampaikan oleh ust.
Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Al Hafidz, berikut ini insya Allah akan dishare secara
singkat beberapa point penting berkaitan dengan muamalah kita dengan al Quran. Jadi,
walaupun para pembaca tidak turut serta dalam MQN tersebut, semoga dapat turut
mendapatkan ilmunya dan dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkannya. Inilah taujih
beliau yang berhasil penulis catat dalam notebook yang dibagikan panitia,
Bersama Al Quran Insya Allah Khair
“Sebelum kita memutuskan untuk menghafal al Quran, biasanya ada
sekian alasan yang melatarbelakangi seseorang mengapa ia memilih kegiatan itu.
Diantaranya ada yang ingin menjadi imam masjid, ustadzah, meningkatkan status
sosial, untuk mengikuti lomba, dan sebagainya. Tetapi ada lebih mendasar lagi
dan itu sering menjadi jawaban rata-rata para penghafal. “Mengapa menghafal
al Quran?” biasanya akan dijawab, “demi mencari ridha Allah”. Tetapi,
ada hal yang banyak tidak disadari dibalik jawaban itu, jika niatnya lillah,
mengapa hanya sebentar waktu untuk berta’amul dengan al Quran? Jika niatnya
lillah mengapa putus asa ketika target setoran tidak tercapai? Jika ridha Allah
tujuannya, mengapa tidak cemburu ketika al Quran tidak lagi membasahi lisan
kiita? Selalu ada hal yang berseberangan antara kalimat yang kita ucapkan dan fakta
tindakan yang kita lakukan.
Akhwat, jika yang melatarbelakangi keinginan kita untuk menghafal
al Quran adalah hal-hal yang sifatnya duniawi, maka target-target itu kadang
diberikan kadang juga tidak. Lantas ketika ia tidak diberikan, mampukah kita
bertahan dengan kemuliaan al Quran?
Karena sesungguhnya, target hakiki dari keinginan kita untuk
menghafal al Quran adalah kebersamaan dengan al Quran itu sendiri. Jika kita
sudah bersamanya, biarkan hal-hal lain menjadi urusan Allah swt. Atau dengan
kata lain, dapat kita bahasakan, agar saya bisa dekat dengan Allah maka saya
harus bersama al Quran, agar saya bisa bersama al Quran saya harus banyak
membacanya.
Setelah komitmen itu tertanam dalam diri kita, al Quran berhasil
atau tidak kita hafal, sebaiknya kita bertanya, dekat tidak ya diri kita
dengan al Quran? Ketika al Quran itu dirasa jauh dari kita, jangan-jangan
ada penurunan keimanan dalam diri kita. Atau jangan-jangan al Quran ini sudah
enggan membersamai kita? Karena aslinya, ketika al Quran dan pribadi itu
sama-sama mau, maka tidaklah seseorang itu sehari atau dua hari tidak bersama
al Quran selain jiwanya akan menuntut ia untuk segera bersama al Quran.
Lalu jika kita dianugerahi kebersamaan dengan al Quran,
sesungguhnya yang menggerakan kita adalah Allah swt. Karena kedekatan seseorang
dengan al Quran merupakan rezeki yang sangat besar. Sementara karakter rezeki
itu tidak pasti. Sifatnya bisa diberi, bisa juga tidak. Tugas utama kita
hanyalah beristighfar dan berdoa. Istrigfar merupakan cara untuk menghancurkan
benteng penghalang bernama dosa, sedangkan do’a merupakan pengakuan kekuatan
Allah, tidak ada daya dalam diri kita kecuali atas kehendakNya. Tidak lupa
untuk menyertai dua tugas utama tadi dengan amal shaleh untuk membersihkan diri
kita dari amal-amal buruk sebelumnya. Dan yang terakhir, syukurilah kebersamaan
kita dengan al Quran, bagaimana pun bentuknya, sebanyak apapun ukurannya. Bersama
al Quran insya Allah khair.
Move on With Al Quran
Karena al Quran merupakan kalamullah yang agung, tentu saja
kebersamaan dengannya adalah kenikmatan yang tak terkira. Tidak mudah bagi
seseorang untuk dapat merasakannya. Maka jangan heran, jika seseorang yang
sedang dibersamai al Quran akan didekati oleh ujian-ujian atau ketidaknyamanan berikut
ini;
1.
Ngantuk
Menghafal al
Quran bukanlah sekedar tilawah, menghafal memiliki tingkat kenikmatan yang
lebih besar, maka ketidaknyamanannya pun pasti jauh lebih besar.
2.
Cibiran Orang Lain
Melihat seseorang
begitu sibuk dengan al Quran, biasanya akan dilontarkan komentar yang
bermacam-macam, “ga gitu-gitu amat kali dengan al Quran”. Jangan menyerah,
karena kebersamaan dengan al Quran merupakan kepentingan pribadi kita, walaupun
kita sendirian.
3.
Handphone
Benda canggih
ini sering kali menyita waktu kita, atau bahkan mengalihkan perhatian kita dari
al Quran.
Pertanyaannya, dari mana ketidaknyamanan itu lahir? Barang tentu
dari jiwa kita yang belum mampu beradaptasi dengan kesucian al Quran sebagai
firman Allah swt Yang Maha Suci. Solusinya adalah; pertama, mujahadah
dengan al Quran. Janji Allah dalam al Quran,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا
فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“dan orang-orang yang
bersungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
itu, dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al
Ankabut : 69
Kedua, bertahan. Ketidaknyamanan kita bersama al Quran disebabkan oleh
tingkat keimanan kita yang belum mencapai standar. Dan ketika kita bertahan,
sesungguhnya ayat-ayat yang kit abaca sedang berproses menaikkan tingkat
keimanan kita. Sesuai dengan firman Allah swt;
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا
تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ
“sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila
disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya
bertambah kuat imannya dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.” QS. Al
Anfal : 2
Itulah penggalan-penggalan nasihat yang beliau kemukakan di sela-sela
kebersamaan kami dengan al Quran. Sejatinya bukan hanya dua tema di atas yang
dibahas oleh beliau, masih banyak lagi. Namun karena keterbatasan, untuk
sementara itu saja yang dapat dibagi. Semoga bermanfaat dan turut dapat
merasakan gemuruh batin kami yang sedang merindukan MQN 2 yang insya Allah akan
diadakan 2-7 April di Yogyakarta.