Senin, 18 Maret 2013

Mencetak Hafidzah Menyelamatkan Generasi


لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ
mereka tidak seluruhnya sama, di antara ahlil kitab terdapat orang yang membaca ayat-ayat Allah sepanjang malam dan mereka bersujud (salat)” –Ali Imran 113–

Lebih kurang delapan bulan pasca mengikuti Mukhoyam Al Quran Nasional (MQN) Akhwat Periode kesatu yang diadakan di Cianjur pada tanggal 11-16 September 2012, kedekatan antara jiwa dan al Quran seperti merenggang kembali. Interaksi yang hangat dengannya pada saat Mukhoyam tak dapat dipertahankan hingga Mukhoyam periode kedua. Untuk itu, penulis berusaha mengenang kembali suasana MQN 1 dengan membuka lembaran-lembaran catatan buah tangan dari acara tersebut.
Karena bagi penulis pribadi, MQN merupakan kesempatan yang sangat langka dan mahal. Bagaimana tidak, di tengah gencar-gencirnya musuh-musuh Islam menyerang berbagai sendi kehidupan umat, degradasi moral merebak di mana-mana, kok masih ada sekelompok kaum muslimin yang berkhidmat pada kitabullah. Merelakan waktu untuk berlama-lama duduk dengan al Quran, menyibukan lisan membacanya, meriuh rendahkan suasana ruangan dengan ayat-ayat Allah, tidak sungkan-sungkan pula mengeluarkan biaya ratusan juta untuk mengumpulkan para huffadz di suatu tempat demi terhidupkannya suasana Qurani dan masih banyak pengorbanan lain yang tak terhitung nilainya.
Dalam waktu yang hanya enam hari itu, kami berkumpul dengan satu misi yang sama, hidupkan Al Quran. Di tempat itu hanya akan dijumpai huffadzul Quran saja. Pojokan, sudut ruangan, aula, villa, taman-taman, di bawah pohon rindang, hanya akan didengar ayat-ayat Allah. tidak ada yang menghentikan interaksi kami dengan al Quran kecuali hidangan yang merebakkan aroma sedap untuk disantap. Makanan itu akan disajikan setiap waktu, sehingga tak ada rasa lapar menghinggapi perut kami. Jika selesai dari hidangan itu, kami akan kembali bergegas memburu al Quran. Kami tidur lebih kurang empat jam, yaitu dari jam 22.00-01.00 dini hari. Kami dibangunkan untuk shalat malam diimami hafidz dengan bacaan surat sebanyak tiga juz. Selanjutnya jika masih tersisa waktu sebelum subuh, panitia akan menggunakannya untuk program tasmi’. Kami menyimak hafalan huffadz dari panitia ikhwan. Setelah shalat subuh, masing-masing individu kembali membasahi lisan-lisannya dengan al Quran. Kami sama-sama ingin memenuhi target tilawah 10 juz per hari agar dapat mencapai dua kali khotam selama MQN. Kami juga berkewajiban menyetorkan hafalan baru dan murojaah kepada ustadz yang ditentukan oleh panitia. Ini hanya gambaran singkat rutinitas kami, kenikmatannya jauh lebih manis dari yang dibayangkan. Di akhir acara, kami tidak dapat menahan mata yang berkaca-kaca dengan linangan air. Kami menangis menyesalkan pertemuan yang hanya sejenak ini. Berat batin kami untuk kembali ke dunia nyata dimana kami harus berperang melawan kemalasan dan harus bermujahadah mempertahankan semangat Qurani yang dibentuk selama Mukhoyam.
Itung-itung review petuah-petuah Qurani yang disampaikan oleh ust. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Al Hafidz, berikut ini insya Allah akan dishare secara singkat beberapa point penting berkaitan dengan muamalah kita dengan al Quran. Jadi, walaupun para pembaca tidak turut serta dalam MQN tersebut, semoga dapat turut mendapatkan ilmunya dan dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkannya. Inilah taujih beliau yang berhasil penulis catat dalam notebook yang dibagikan panitia,

Bersama Al Quran Insya Allah Khair
“Sebelum kita memutuskan untuk menghafal al Quran, biasanya ada sekian alasan yang melatarbelakangi seseorang mengapa ia memilih kegiatan itu. Diantaranya ada yang ingin menjadi imam masjid, ustadzah, meningkatkan status sosial, untuk mengikuti lomba, dan sebagainya. Tetapi ada lebih mendasar lagi dan itu sering menjadi jawaban rata-rata para penghafal. “Mengapa menghafal al Quran?” biasanya akan dijawab, “demi mencari ridha Allah”. Tetapi, ada hal yang banyak tidak disadari dibalik jawaban itu, jika niatnya lillah, mengapa hanya sebentar waktu untuk berta’amul dengan al Quran? Jika niatnya lillah mengapa putus asa ketika target setoran tidak tercapai? Jika ridha Allah tujuannya, mengapa tidak cemburu ketika al Quran tidak lagi membasahi lisan kiita? Selalu ada hal yang berseberangan antara kalimat yang kita ucapkan dan fakta tindakan yang kita lakukan.
Akhwat, jika yang melatarbelakangi keinginan kita untuk menghafal al Quran adalah hal-hal yang sifatnya duniawi, maka target-target itu kadang diberikan kadang juga tidak. Lantas ketika ia tidak diberikan, mampukah kita bertahan dengan kemuliaan al Quran?
Karena sesungguhnya, target hakiki dari keinginan kita untuk menghafal al Quran adalah kebersamaan dengan al Quran itu sendiri. Jika kita sudah bersamanya, biarkan hal-hal lain menjadi urusan Allah swt. Atau dengan kata lain, dapat kita bahasakan, agar saya bisa dekat dengan Allah maka saya harus bersama al Quran, agar saya bisa bersama al Quran saya harus banyak membacanya.
Setelah komitmen itu tertanam dalam diri kita, al Quran berhasil atau tidak kita hafal, sebaiknya kita bertanya, dekat tidak ya diri kita dengan al Quran? Ketika al Quran itu dirasa jauh dari kita, jangan-jangan ada penurunan keimanan dalam diri kita. Atau jangan-jangan al Quran ini sudah enggan membersamai kita? Karena aslinya, ketika al Quran dan pribadi itu sama-sama mau, maka tidaklah seseorang itu sehari atau dua hari tidak bersama al Quran selain jiwanya akan menuntut ia untuk segera bersama al Quran.
Lalu jika kita dianugerahi kebersamaan dengan al Quran, sesungguhnya yang menggerakan kita adalah Allah swt. Karena kedekatan seseorang dengan al Quran merupakan rezeki yang sangat besar. Sementara karakter rezeki itu tidak pasti. Sifatnya bisa diberi, bisa juga tidak. Tugas utama kita hanyalah beristighfar dan berdoa. Istrigfar merupakan cara untuk menghancurkan benteng penghalang bernama dosa, sedangkan do’a merupakan pengakuan kekuatan Allah, tidak ada daya dalam diri kita kecuali atas kehendakNya. Tidak lupa untuk menyertai dua tugas utama tadi dengan amal shaleh untuk membersihkan diri kita dari amal-amal buruk sebelumnya. Dan yang terakhir, syukurilah kebersamaan kita dengan al Quran, bagaimana pun bentuknya, sebanyak apapun ukurannya. Bersama al Quran insya Allah khair.

Move on With Al Quran
Karena al Quran merupakan kalamullah yang agung, tentu saja kebersamaan dengannya adalah kenikmatan yang tak terkira. Tidak mudah bagi seseorang untuk dapat merasakannya. Maka jangan heran, jika seseorang yang sedang dibersamai al Quran akan didekati oleh ujian-ujian atau ketidaknyamanan berikut ini;
1.      Ngantuk
Menghafal al Quran bukanlah sekedar tilawah, menghafal memiliki tingkat kenikmatan yang lebih besar, maka ketidaknyamanannya pun pasti jauh lebih besar.
2.      Cibiran Orang Lain
Melihat seseorang begitu sibuk dengan al Quran, biasanya akan dilontarkan komentar yang bermacam-macam, “ga gitu-gitu amat kali dengan al Quran”. Jangan menyerah, karena kebersamaan dengan al Quran merupakan kepentingan pribadi kita, walaupun kita sendirian.
3.      Handphone
Benda canggih ini sering kali menyita waktu kita, atau bahkan mengalihkan perhatian kita dari al Quran.
Pertanyaannya, dari mana ketidaknyamanan itu lahir? Barang tentu dari jiwa kita yang belum mampu beradaptasi dengan kesucian al Quran sebagai firman Allah swt Yang Maha Suci. Solusinya adalah; pertama, mujahadah dengan al Quran. Janji Allah dalam al Quran,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan itu, dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al Ankabut : 69
Kedua, bertahan. Ketidaknyamanan kita bersama al Quran disebabkan oleh tingkat keimanan kita yang belum mencapai standar. Dan ketika kita bertahan, sesungguhnya ayat-ayat yang kit abaca sedang berproses menaikkan tingkat keimanan kita. Sesuai dengan firman Allah swt;
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambah kuat imannya dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.” QS. Al Anfal : 2
Itulah penggalan-penggalan nasihat yang beliau kemukakan di sela-sela kebersamaan kami dengan al Quran. Sejatinya bukan hanya dua tema di atas yang dibahas oleh beliau, masih banyak lagi. Namun karena keterbatasan, untuk sementara itu saja yang dapat dibagi. Semoga bermanfaat dan turut dapat merasakan gemuruh batin kami yang sedang merindukan MQN 2 yang insya Allah akan diadakan 2-7 April di Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar