Dalam seluruh rangkaian perjuangan kita, hendaknya sejenak kita
merenung, kontemplasi demi mencari bahasa-bahasa indah untuk melukiskan rasa
terima kasih kepada wanita yang menghantarkan kita menuju kemudahan-kemudahan
hidup. Wanita yang selalu mengutamakan nama kita dalam do’a-do’anya sebelum
permintaan yang lain. Wanita yang mengorbankan begitu banyak kepentingannya
demi manifestasi cinta. Wanita itu, Ibu.
Cinta ibu kepada anaknya adalah cinta yang tak lekang sepanjang
zaman. Selama berpuluh-puluh tahun, tutur dan tingkah lakunya merupakan ramuan
yang membuat kita berbeda dengan orang lain. Dengan sabar dan tekun ia memahat,
memalu, mengampelas dan menggosok kita, agar terhasilkan sebuah master piece,
unggulan, dan lebih baik dari dirinya.
Semata cinta.
Kita mungkin lupa bagaimana wajah sumringah ibu menyaksikan anaknya
bisa berjalan selangkah demi selangkah. Lalu di malam hari, ia akan
terkantuk-kantuk menunggu anaknya terlelap, atau menidurkannya kembali saat
buah hati terbangun. Seharian, sejak matanya terjaga sampai terjaga lagi,
mungkin di alam fikirannya hanya ada kita. Bagaimana perkembangannya,
kesehatannya dan tawa riangnya. Kita juga mungkin tak begitu ingat, bagaimana
pancaran harapan ibu saat meminta anaknya membawa sebungkus nasi dan lauk pauk
masakannya ke sekolah. Ibu bahagia dan amat lapang dadanya mendampingi kita
menjalani proses menuju hari esok, masa depan gemilang.
Kita terus maju seiring berjalannya waktu, ibu pun mulai mencatat
prestasi dan capaian-capaian kita. Namun tak berubah, ibu tetap dengan
kebesaran jiwanya, mendahulukan kepentingan anak sebelum kepentingan dirinya.
Tidak sungkan-sungkan menjual perhiasan yang bisa jadi hanya satu-satunya agar
perjalanan anaknya bebas hambatan. Dalam konsepsi keibuan, tidak etis baginya
mengumbar air mata di hadapan anaknya. Untuk itu ia selalu tegar dan bisa
menyelesaikan semua persoalan dengan baik.
Mungkin pula ibu kita hanyalah ibu, tanpa seseorang yang kita sebut
ayah di sisinya. Ia berlelah-lelah, membanting tulang, menahan teriknya
matahari, atau menggigilnya guyuran air dari langit, memaksakan kakinya yang mulai
kaku untuk melangkah menjajakan dagangan dari pintu ke pintu, yang hakikatnya pada
saat itu, sungguh tidak hina baginya untuk meminta belas kasihan dari anaknya.
Tetapi rasa enggan menghijabi, ia terus berusaha tanpa banyak meminta.
Dalam nada bicara, intonasi suara, belaian lembut jari jemarinya,
tersirat keinginan agar anaknya kelak hidup dengan kondisi lebih baik, penuh
percaya diri, dan yakin akan kesuksesannya. Tersembunyi dalam getaran
nasihatnya sebuah harapan, apapun capaian yang diraih anaknya, ia ingin agar
anaknya tetap meliriknya dengan bangga karena ia yang senantiasa mati-matian meninggikan
anaknya ketika yang lain merendahkan, ia jua yang pertama kali mendo’akan
anaknya meski belum diutarakan cita-cita dan impiannya.
Mungkin hari ini, saat kondisi kita sesuai dengan harapan dan
do’anya, ibu kita sudah menua, bahkan sebagian telah tiada. Dan bisa jadi, saat
usianya tinggal hitungan hari, bulan, tahun, kita masih belum tahu, dalam cinta
yang tanpa syarat, dalam isyarat-isyarat kasih sayang yang menghebatkan, bahwa
sejatinya di dalam ruang hatinya terdetik kekhawatiran, di akhir hayat esok “akankah
sang anak menempatkan namanya di urutan pertama dalam munajatnya”. Kekhawatiran
yang harus kita fahami sebelum terbahasakan dalam lisan atau tidak terbahasakan
sama sekali karena ajal lebih dulu menjemputnya.
Ibu, aku mencintaimu, dan aku percaya, engkau tahu bahwa aku
mencintaimu, namun kini, aku hanya ingin engkau mendengarnya lebih sering lagi…
Allahu a’lam bi ash showab, semoga membekas manfaat...