Jumat, 23 November 2012

Aku Mencintaimu, Tanpa Syarat!


Dalam seluruh rangkaian perjuangan kita, hendaknya sejenak kita merenung, kontemplasi demi mencari bahasa-bahasa indah untuk melukiskan rasa terima kasih kepada wanita yang menghantarkan kita menuju kemudahan-kemudahan hidup. Wanita yang selalu mengutamakan nama kita dalam do’a-do’anya sebelum permintaan yang lain. Wanita yang mengorbankan begitu banyak kepentingannya demi manifestasi cinta. Wanita itu, Ibu.

Cinta ibu kepada anaknya adalah cinta yang tak lekang sepanjang zaman. Selama berpuluh-puluh tahun, tutur dan tingkah lakunya merupakan ramuan yang membuat kita berbeda dengan orang lain. Dengan sabar dan tekun ia memahat, memalu, mengampelas dan menggosok kita, agar terhasilkan sebuah master piece, unggulan, dan lebih baik dari dirinya.

Semata cinta.
Kita mungkin lupa bagaimana wajah sumringah ibu menyaksikan anaknya bisa berjalan selangkah demi selangkah. Lalu di malam hari, ia akan terkantuk-kantuk menunggu anaknya terlelap, atau menidurkannya kembali saat buah hati terbangun. Seharian, sejak matanya terjaga sampai terjaga lagi, mungkin di alam fikirannya hanya ada kita. Bagaimana perkembangannya, kesehatannya dan tawa riangnya. Kita juga mungkin tak begitu ingat, bagaimana pancaran harapan ibu saat meminta anaknya membawa sebungkus nasi dan lauk pauk masakannya ke sekolah. Ibu bahagia dan amat lapang dadanya mendampingi kita menjalani proses menuju hari esok, masa depan gemilang.

Kita terus maju seiring berjalannya waktu, ibu pun mulai mencatat prestasi dan capaian-capaian kita. Namun tak berubah, ibu tetap dengan kebesaran jiwanya, mendahulukan kepentingan anak sebelum kepentingan dirinya. Tidak sungkan-sungkan menjual perhiasan yang bisa jadi hanya satu-satunya agar perjalanan anaknya bebas hambatan. Dalam konsepsi keibuan, tidak etis baginya mengumbar air mata di hadapan anaknya. Untuk itu ia selalu tegar dan bisa menyelesaikan semua persoalan dengan baik.

Mungkin pula ibu kita hanyalah ibu, tanpa seseorang yang kita sebut ayah di sisinya. Ia berlelah-lelah, membanting tulang, menahan teriknya matahari, atau menggigilnya guyuran air dari langit, memaksakan kakinya yang mulai kaku untuk melangkah menjajakan dagangan dari pintu ke pintu, yang hakikatnya pada saat itu, sungguh tidak hina baginya untuk meminta belas kasihan dari anaknya. Tetapi rasa enggan menghijabi, ia terus berusaha tanpa banyak meminta.

Dalam nada bicara, intonasi suara, belaian lembut jari jemarinya, tersirat keinginan agar anaknya kelak hidup dengan kondisi lebih baik, penuh percaya diri, dan yakin akan kesuksesannya. Tersembunyi dalam getaran nasihatnya sebuah harapan, apapun capaian yang diraih anaknya, ia ingin agar anaknya tetap meliriknya dengan bangga karena ia yang senantiasa mati-matian meninggikan anaknya ketika yang lain merendahkan, ia jua yang pertama kali mendo’akan anaknya meski belum diutarakan cita-cita dan impiannya.
Mungkin hari ini, saat kondisi kita sesuai dengan harapan dan do’anya, ibu kita sudah menua, bahkan sebagian telah tiada. Dan bisa jadi, saat usianya tinggal hitungan hari, bulan, tahun, kita masih belum tahu, dalam cinta yang tanpa syarat, dalam isyarat-isyarat kasih sayang yang menghebatkan, bahwa sejatinya di dalam ruang hatinya terdetik kekhawatiran, di akhir hayat esok “akankah sang anak menempatkan namanya di urutan pertama dalam munajatnya”. Kekhawatiran yang harus kita fahami sebelum terbahasakan dalam lisan atau tidak terbahasakan sama sekali karena ajal lebih dulu menjemputnya.

Ibu, aku mencintaimu, dan aku percaya, engkau tahu bahwa aku mencintaimu, namun kini, aku hanya ingin engkau mendengarnya lebih sering lagi…
Allahu a’lam bi ash showab, semoga membekas manfaat...