Senin, 16 Desember 2013

Jangan Jangan Perilaku Kita yang Melahirkan Koruptor?!


Indonesia, Indonesia, Negara yang  penduduknya nyaris berjumlah tiga kali lipat penduduk Jerman ini selalu saja bermasalah dalam hal adminduk alias administrasi kependudukan. Baik itu akta kelahiran yang ribetnya na’udzubillah, KTP Elektronik yang acak adut  hingga berujung pada kegagalan massif (khususnya di kecamatan saya), Kartu Keluarga yang sangat lamban prosesnya, juga soal urusan administrasi lain yang tidak pernah lepas hubungannya dari lembaga pemerintah yang tingkatannya paling rendah sekalipun, yaitu Desa atau Kelurahan.
Kondisi ini tidak sepenuhnya disalahkan kepada aparat negara, karena faktanya, masyarakat dengan tingkat kesadaran penuh bahwa rapihnya administrasi kependudukan itu penting masih sangat minim. Di pelosok masih saja akan ditemui beberapa warga yang tidak memiliki identitas, baik KK ataupun KTP. Mereka merasa tidak berkepentingan untuk membuatnya karena merasa tidak akan menggunakannya. Ga punya KTP juga masih idup. Demikian bahasa kasarnya.
Fakta lain tidak dapat dikatakan lucu adalah bahwa aparat negara juga cenderung mempermainkan mekanisme pembuatan surat-surat kependudukan. Misalnya, kongkalingkong SIAPA BAYAR DIA LANCAR. Proses pembuatan KTP, KK yang seharusnya selesai maksimal 1 minggu bisa diolah atur lagi supaya bernilai bisnis dan menguntungkan aparat.
Konon, menengahi masalah ini, pemerintah sudah membuat kebijakan yang terang benderang dengan terbitnya UU Adminduk sebagai perubahan UU No 23 Tahun 2006. Point penting yang menjadi topic utama pengambilan keputusan tingkat I dalam rapat kerja komisi II DPR RI pada tanggal 4 Juli 2013 yaitu SEGALA PENGURUSAN DAN PENERBITAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN GRATIS ALIAS TIDAK DIPUNGUT BIAYA. Ketentuan pengurusan administrasi kependudukan (E-KTP, akta kelahiran dan akta kematian) tanpa biaya itu tertuang dalam BAB IXA tentang Pendanaan pada UU perubahan atas nomor 26/2006 pasal 87A dan 87B. Pendanaan penyelengaraan program dan kegiatan administrasi kependudukan dianggarkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara, bunyi pasal 87A. Pendanaan penyelenggaraan program dan kegiatan administrasi kependudukan di daerah dianggarkan melalui dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, lanjut pasal 87B.
Ngelesnya sih gaji dari negara tidak seberapa sehingga kreatif membuka bisnis sampingan kecil-kecilan. Contoh bisnis yang digarap para pejabat ini sudah penulis alami sendiri beberapa waktu lalu ketika mengurus surat pindah di Dinas Kependudukan Kabupaten Cianjur. Tujuan share pengalaman ini bukan untuk mempermalukan (alhamdulillah kalau malu) pihak-pihak yang terkait, tetapi untuk sama-sama kita sikapi dengan baik ke depannya agar terwujud pemerintahan yang berjiwa syukur, jujur, makmur dan tidak takabbur. J
Siang itu, kira-kira jam 13 siang, saya ditemani Ibu bergegas dari penginapan menuju Dinas Kependudukan (disduk) Kab Cianjur yang lokasinya berada di Terminal Rawabango, Cianjur. Karena sudah terbiasa mengurus adminduk sendiri (tanpa didampingi aparat desa) saya nanya sana sini untuk ditunjukkan di mana ruangan urusan kepindahan. Saat berhadapan dengan pejabat disduk saya ditanya mengenai berkas-berkas pengajuan pindah antar Provinsi; yaitu KK dan KTP (keduanya harus asli, bukan copy). Di ruangan itu semua mekanisme berjalan lancar. Pejabat berseragam batik PNS itu menyilakan saya untuk menunggu di luar.
Selang beberapa menit, nama saya dipanggil dengan jelas dari ruangan yang tadi saya tinggalkan. Setelah saya berada di hadapannya, pejabat yang melayani saya itu kembali menyilakan saya memasuki sebuah ruangan yang lokasinya sekitar empat meter dari ruang kerjanya. Saya manut.
“Assalamu’alaikum, Bu...” yang disapa mengangkat mukanya  dan melempar senyum yang saya juga bingung bagaimana rasanya senyum itu. Tetapi jelas bukan manis.
“Pindah ke mana neng?” Wajahnya sumringah
tong kamana-mana, kalem we sakedap (jangan kemana-mana, tenang aja dulu sebentar)” Pinta ibu pejabat yang saya yakin kedudukannya lebih tinggi dari wanita berpakaian batik yang saya temui sebelumnya kepada seorang pedagang cemilan yang sedari tadi berebut tawar soal harga makanan yang dijualnya.
Rupanya dia masih menunggu jawaban. “Ke seberang bu...” Datar.
Ia membolak-balik dua lembar kertas yang dipegangnya sambil sesekali melirik wajah saya.
“Yang ini diserahkan ke disduk kabupaten di sana.” Tangannya menyodorkan amplop buram coklat pekat.
“KTP dan KK asli kami tarik karena sudah tidak tercatat sebagai warga di sini lagi.” Imbuhnya.
Saya hanya manggut-manggut.
“Baik, terima kasih ya Bu...” Dengan kaki yang nyaris tegak hendak berdiri.
“administrasinya neng?
Dengan wajah polos saya menatap wajah pemilik suara tadi sambil bertanya, “administrasi buat apa ya bu?”
“itu… kertas, amplop!” kalimatnya terputus. Matanya menteleng melirik amplop coklat yang sudah diserahkannya.
“oh begitu toh bu, bukannya ini ada dana operasionalnya bu ya dari Negara?” masih dengan ekspresi seadanya.
“Yaaaa kalau dari Negara mah ga cukup neng.” Kilahnya.
“Oh jadi harus bayar ya… berapa bu?” Saya menurunkan volume suara setengah berbisik.
“dua puluh lima ribu…”
Tangan saya merogoh tas untuk mengambil uang. Kebetulan uangnya tidak ada yang pas. Jadi saya menyodorkan uang nominal lima puluh ribu.
“ga ada uang pas nih neng?” Celotehnya agak ketus.
Saya hanya menggeleng.
Pejabat itu mengembalikan uang sebesar tiga puluh ribu rupiah. Wah udah didiskon nih lima rebu. Pikirku.
“Oh jadi bayar bu ya…” Kalimat itu seperti refleks disertai dengan jidat mengkerut dan manggut-manggut so keheranan.
“Neng, neng ridha ga? Ikhlas ga?” Khusus untuk perkataan yang ini nadanya terdengar lebih tinggi.
Sambil menatap uang kembalian tiga puluh ribu rupiah di tangan wanita bergelar Dra. itu lagi lagi kepala saya refleks menggeleng.
“Engga bu, saya keberatan. Saya ambil lagi ya uangnya.” Tangan saya menarik selembar uang lima puluh ribu yang beberapa detik lalu diserahkan.
Tanpa basi-basa, saya masukan uang tersebut dan berdiri.
“Hatur nuhun bu…” Entah apa yang terjadi dengan lawan bicara saya, dia hanya terdiam dan wajah sumringahnya hilang. Berbeda dengan saat saya memasuki ruangan. Semoga Ibu sehat sehat saja.
Saya melenggang meninggalkan ruangan dengan wajah puas dan hati senang. Ini bukan soal nominal yang selamat dari palakan pejabat, tetapi tentang tegaknya nilai-nilai kejujuran di lembaga pemerintahan.
Harapannya, pemerintah betul-betul secara tegas mengawal UU Adminduk dengan transparan dan akuntabel. Implementasi UU itu diharapkan konsisten tidak hanya di beberapa kota atau kabupaten, tetapi dibuat merata di semua sudut negeri.
Semoga penuturan ini juga bisa menjadi referensi para pembaca ketika berada pada kondisi yang penulis alami. Allahu a’lam.

Kamis, 11 April 2013

Jangan Pernah Berhenti Berkeinginan



Disadari atau tidak, keberadaan kita kini, dimana pun, tidak terlepas dari keinginan. Karena keinginan itulah yang mendorong kita untuk bertadhiyah demi mencapainya. Keinginan itu yang jika dibungkus dalam skala besar, tepatnya dapat kita sebut mimpi. Sebagaimana nasehat Imam Hasan Al Banna, ahlaamul yaum haqoiqu al ghod, mimpi hari ini kenyataan esok. Dan sesungguhnya mimpi-mimpi itulah proyek besar kita untuk merintis kenangan yang indah di masa depan.
Begitu pula dengan kehadiran kami di MQN (Mukhoyam Al Quran Nasional), tidak mungkin luput dari sebersit keinginan yang tentu saja bertepatan dengan restu Allah swt. Kami berkumpul semata-mata untuk membulatkan tekad bersama al Quran sepanjang hidup kami. Kami datang untuk sama-sama meriuh rendahkan setiap sudut ruangan dengan lafaz lafaz suci Al Quran. Target enam puluh juz tilawah, qiyamul lail tiga juz/malam, setoran murojaah minimal empat juz dan di hari terakhir ditutup dengan ujian sebanyak juz yang disetorkan. Maka karena angka-angka itu, tidak ada yang menyibukkan kami selain bagaimana agar target itu tercapai. Karena jika tidak, sebagai kopasus al Quran, slogan kami adalah “lebih baik pulang nama daripada target tidak tercapai”.
Jam 02.00 kami terbangun untuk sahur dengan menu tiga juz al Quran dalam qiyamul lail berjamaah, sarapan pagi setoran murojaah, coffe break taujih Qurani, makan siang setoran, dan makan malam setoran ditutup dengan cuci mulut taujih Qurani. Pemandangan yang haru sekaligus lucu terjadi ketika kami melangsungkan qiyamul lail. Maklum, biasa qiyamul lail membaca surat-surat pilihan terpendek di antara yang pendek, MQN memberikan sajian yang plus plus, tiga juz dibagi delapan rakaat, jika dibagi rata-rata menjadi setengah juz kurang untuk masing-masing rakaat. Sejatinya tidak lama, hanya memakan waktu seperempat jam per rakaat, tetapi tak enyah kaki kami dari pegal, maka jangan heran jika kaki kami sesekali bergerak ke depan bergantian kiri kanan, atau ditekuk untuk mengabulkan permintaan otot-otot lutut. Jika dalam surat al Anfal disebutkan ciri-ciri orang mukmin adalah dia yang bergetar hatinya ketika dibacakan ayat-ayat Allah, maka dalam qiyamul lail adalah dia yang wajilat lututuhum, bergetar lututnya. J
Mushaf yang nyaris jatuh dari genggaman ketika qiyamul lail, juga menjadi cerita masing-masing yang mengalaminya. Bolak-balik keluar shof untuk memperbaharui wudhu, sujud tidak bangun lagi, atau konon di kalangan ikhwan ada yang menggantungkan jarinya di sela-sela kancing baju adalah lelucon nyata di antara kami. Lalu bagaimana jika Allah takdirkan kita menjadi Hudzaifah bin al Yaman yang bermakmum di belakang Rasulullah saw, lalu dibacakan surat al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa dalam satu rakaat? Allahummaj’alna min ahlil Quran.
Tetapi di rakaat terakhir witir, suasana akan berubah seratus delapan puluh derajat. Kantuk hilang, angin pembatal senyap, lutut pun tegak berdiri. Adakah ini karena pertanda qiyamul lail malam itu akan segera berakhir? Nampaknya bukan, melainkan lantunan doa-doa dalam qunut nazilah. Nada tangisan kami semakin melengking, masjid akan gaduh dengan ratapan penuh pengharapan manakala imam berdoa allahumaj’alna wa ahlana min ahlil Quran alladzina hum ahluka wa khoshshotuk, robbighfirlana wa liwalidaina, allahummanshur mujahidina fi Filisthin, Iraq, Afghan, Syiria, allahumma ahlik al yahud wa nashoro, allahumma a’izza al Islama wal muslimin.
Itulah lebih kurang gambaran aktivitas kami di sana. Meskipun dikatakan oleh seorang muwajjih, tidak ada yang membanggakan dari orang-orang seusia kita baru menghapal al Quran, karena seharusnya agenda ini sudah selesai di usia remaja, namun kami tetap merasa bahagia atas izin Allah hingga mengantarkan kita di tempat itu, dan kami juga tak dapat menahan cucuran air mata ketika di hari terakhir kami harus berpisah dan dikembalikan ke dunia nyata. Entahlah, batin kami bergejolak, antara siap dan tidak. Andai mampu, hasrat kami meminta pertemuan ini lebih lama. Tetapi kami bergegas menyadari, mujahadah akan terasa manakala kita keluar dari comfort zone lalu mengerahkan sekuat tenaga untuk mempertahankan spirit mukhoyam ke mukhoyam berikutnya. Alhamdulillah, dari mukhoyam kami mengerti perkataan ini,  “Al Quran adalah jendela yang membuat kita mengerti betapa hidup ini luas dan indah” - Sayyid Quthb.
Terangkai dari ini semua, keinginan kami tidak terputus, ingin suatu hari kami berkumpul kembali untuk tekad yang sama yaitu bersama al Quran, baik dalam MQN 3 atau moment yang lain. Ingin suatu saat kami berkumpul dalam semangat ta’abbudi untuk kembali qiyam dengan surat-surat yang lebih panjang dan sangat nikmat nampaknya jika hafalan kami sudah sempurna tiga puluh juz mutqin. Sehingga sikut kami tidak perlu gemetaran karena memegangi mushaf. Ingin al Quran itu berada seutuhnya di dada kami.
Terima kasih para du’at yang tetap konsisten menyeru kebaikan dan menghindarkan saudaranya dari kemunkaran, tiada yang dapat membalasmu kecuali Allah, karena balasannya adalah balasan terbaik yaitu jannatullah. Terima kasih sahabat yang berkenan membaca catatan ini. Semoga Allah wafatkan kita dalam kenikmatan berinteraksi dengan al Quran hingga kita berkumpul di FirdausNya. Aamin.
Ya Allah, berikan cahaya kepada hati kami dengan tilawah Al Quran
Baguskan akhlaq kami sesuai dengan akhlaq al Quran
Indahkan akhlaq kami dengan akhlaq al Quran
Baguskan amal-amal kami dengan selalu berdzikir murojaah al Quran
Dan putihkanlah wajah kami, berserikanlah wajah kami dengan perantara Al Quran
Lindungi kami dari azabMu karena kami di dunia bersama al Quran
Terangilah kuburan-kuburan kami dengan cahaya al Quran
Dan masukanlah kami ke surgaMu dengan syafaat al Quran
Jangan Kau cabut kecintaan kami kepadaMu dan kecintaan kami kepada Al Quran
Jadikanlah kami saling membela dengan suadara-saudara kami karena kami telah berkumpul di sini untuk sama-sama membulatkan tekad bersama al Quran sepanjang hidup kami
Jadikan al Quran ini perantara untuk kami bertemu dengan Rasulullah, berulang-ulang kami tilawah menyebut Rasul Rasul, pertemukanlah kami ya Allah, kami setiap kali menyebut nama RasulMu, kami senantiasa merasakan rindu yang mendalam terhadap baginda RasulMu
Kuatkan kami di saat kami futur ya Allah,
Kuatkan kami di saat kami lemah ya Allah
Kuatkan kami saat kami malas ya Allah
Bangkitkan kami saat kami tidak berdaya menghadapi keterbatasan
Kuatkan kami saat sendirian bersama al Quran
Kuatkan kami saat kami berdakwah membangun umat ini tetap bersama al Quran
Dan cabutlah nyawa kami saat kami membaca al Quran seperti para pendahulu kami yang Engkau wafatkan ketika mereka bersama al Quran, sehingga kami menjadi layak untuk disandingkan dengan mereka di hadapanMu kelak.
Rabbana Atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah, wa qina adzabannar.

Tulisan ini sengaja disusun semata berbagi kepada sahabat-sahabat yang belum berkesempatan untuk merasakan kenikmatan bersama al Quran dalam Mukhoyam Al Quran Nasional Akhwat yang diselenggarakn para du’at dibawah binaan Al Ustadz Abdul Aziz Abdur Rouf, al Hafidz, Lc. pada tanggal 2-7 April 2013 di Yogyakarta. Penulis yakin, meskipun belum berkesempatan turut serta, sahabat pasti senantiasa mengecapi kenikmatan bersama al Quran di tempat yang berbeda.

Senin, 18 Maret 2013

Mencetak Hafidzah Menyelamatkan Generasi


لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ
mereka tidak seluruhnya sama, di antara ahlil kitab terdapat orang yang membaca ayat-ayat Allah sepanjang malam dan mereka bersujud (salat)” –Ali Imran 113–

Lebih kurang delapan bulan pasca mengikuti Mukhoyam Al Quran Nasional (MQN) Akhwat Periode kesatu yang diadakan di Cianjur pada tanggal 11-16 September 2012, kedekatan antara jiwa dan al Quran seperti merenggang kembali. Interaksi yang hangat dengannya pada saat Mukhoyam tak dapat dipertahankan hingga Mukhoyam periode kedua. Untuk itu, penulis berusaha mengenang kembali suasana MQN 1 dengan membuka lembaran-lembaran catatan buah tangan dari acara tersebut.
Karena bagi penulis pribadi, MQN merupakan kesempatan yang sangat langka dan mahal. Bagaimana tidak, di tengah gencar-gencirnya musuh-musuh Islam menyerang berbagai sendi kehidupan umat, degradasi moral merebak di mana-mana, kok masih ada sekelompok kaum muslimin yang berkhidmat pada kitabullah. Merelakan waktu untuk berlama-lama duduk dengan al Quran, menyibukan lisan membacanya, meriuh rendahkan suasana ruangan dengan ayat-ayat Allah, tidak sungkan-sungkan pula mengeluarkan biaya ratusan juta untuk mengumpulkan para huffadz di suatu tempat demi terhidupkannya suasana Qurani dan masih banyak pengorbanan lain yang tak terhitung nilainya.
Dalam waktu yang hanya enam hari itu, kami berkumpul dengan satu misi yang sama, hidupkan Al Quran. Di tempat itu hanya akan dijumpai huffadzul Quran saja. Pojokan, sudut ruangan, aula, villa, taman-taman, di bawah pohon rindang, hanya akan didengar ayat-ayat Allah. tidak ada yang menghentikan interaksi kami dengan al Quran kecuali hidangan yang merebakkan aroma sedap untuk disantap. Makanan itu akan disajikan setiap waktu, sehingga tak ada rasa lapar menghinggapi perut kami. Jika selesai dari hidangan itu, kami akan kembali bergegas memburu al Quran. Kami tidur lebih kurang empat jam, yaitu dari jam 22.00-01.00 dini hari. Kami dibangunkan untuk shalat malam diimami hafidz dengan bacaan surat sebanyak tiga juz. Selanjutnya jika masih tersisa waktu sebelum subuh, panitia akan menggunakannya untuk program tasmi’. Kami menyimak hafalan huffadz dari panitia ikhwan. Setelah shalat subuh, masing-masing individu kembali membasahi lisan-lisannya dengan al Quran. Kami sama-sama ingin memenuhi target tilawah 10 juz per hari agar dapat mencapai dua kali khotam selama MQN. Kami juga berkewajiban menyetorkan hafalan baru dan murojaah kepada ustadz yang ditentukan oleh panitia. Ini hanya gambaran singkat rutinitas kami, kenikmatannya jauh lebih manis dari yang dibayangkan. Di akhir acara, kami tidak dapat menahan mata yang berkaca-kaca dengan linangan air. Kami menangis menyesalkan pertemuan yang hanya sejenak ini. Berat batin kami untuk kembali ke dunia nyata dimana kami harus berperang melawan kemalasan dan harus bermujahadah mempertahankan semangat Qurani yang dibentuk selama Mukhoyam.
Itung-itung review petuah-petuah Qurani yang disampaikan oleh ust. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Al Hafidz, berikut ini insya Allah akan dishare secara singkat beberapa point penting berkaitan dengan muamalah kita dengan al Quran. Jadi, walaupun para pembaca tidak turut serta dalam MQN tersebut, semoga dapat turut mendapatkan ilmunya dan dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkannya. Inilah taujih beliau yang berhasil penulis catat dalam notebook yang dibagikan panitia,

Bersama Al Quran Insya Allah Khair
“Sebelum kita memutuskan untuk menghafal al Quran, biasanya ada sekian alasan yang melatarbelakangi seseorang mengapa ia memilih kegiatan itu. Diantaranya ada yang ingin menjadi imam masjid, ustadzah, meningkatkan status sosial, untuk mengikuti lomba, dan sebagainya. Tetapi ada lebih mendasar lagi dan itu sering menjadi jawaban rata-rata para penghafal. “Mengapa menghafal al Quran?” biasanya akan dijawab, “demi mencari ridha Allah”. Tetapi, ada hal yang banyak tidak disadari dibalik jawaban itu, jika niatnya lillah, mengapa hanya sebentar waktu untuk berta’amul dengan al Quran? Jika niatnya lillah mengapa putus asa ketika target setoran tidak tercapai? Jika ridha Allah tujuannya, mengapa tidak cemburu ketika al Quran tidak lagi membasahi lisan kiita? Selalu ada hal yang berseberangan antara kalimat yang kita ucapkan dan fakta tindakan yang kita lakukan.
Akhwat, jika yang melatarbelakangi keinginan kita untuk menghafal al Quran adalah hal-hal yang sifatnya duniawi, maka target-target itu kadang diberikan kadang juga tidak. Lantas ketika ia tidak diberikan, mampukah kita bertahan dengan kemuliaan al Quran?
Karena sesungguhnya, target hakiki dari keinginan kita untuk menghafal al Quran adalah kebersamaan dengan al Quran itu sendiri. Jika kita sudah bersamanya, biarkan hal-hal lain menjadi urusan Allah swt. Atau dengan kata lain, dapat kita bahasakan, agar saya bisa dekat dengan Allah maka saya harus bersama al Quran, agar saya bisa bersama al Quran saya harus banyak membacanya.
Setelah komitmen itu tertanam dalam diri kita, al Quran berhasil atau tidak kita hafal, sebaiknya kita bertanya, dekat tidak ya diri kita dengan al Quran? Ketika al Quran itu dirasa jauh dari kita, jangan-jangan ada penurunan keimanan dalam diri kita. Atau jangan-jangan al Quran ini sudah enggan membersamai kita? Karena aslinya, ketika al Quran dan pribadi itu sama-sama mau, maka tidaklah seseorang itu sehari atau dua hari tidak bersama al Quran selain jiwanya akan menuntut ia untuk segera bersama al Quran.
Lalu jika kita dianugerahi kebersamaan dengan al Quran, sesungguhnya yang menggerakan kita adalah Allah swt. Karena kedekatan seseorang dengan al Quran merupakan rezeki yang sangat besar. Sementara karakter rezeki itu tidak pasti. Sifatnya bisa diberi, bisa juga tidak. Tugas utama kita hanyalah beristighfar dan berdoa. Istrigfar merupakan cara untuk menghancurkan benteng penghalang bernama dosa, sedangkan do’a merupakan pengakuan kekuatan Allah, tidak ada daya dalam diri kita kecuali atas kehendakNya. Tidak lupa untuk menyertai dua tugas utama tadi dengan amal shaleh untuk membersihkan diri kita dari amal-amal buruk sebelumnya. Dan yang terakhir, syukurilah kebersamaan kita dengan al Quran, bagaimana pun bentuknya, sebanyak apapun ukurannya. Bersama al Quran insya Allah khair.

Move on With Al Quran
Karena al Quran merupakan kalamullah yang agung, tentu saja kebersamaan dengannya adalah kenikmatan yang tak terkira. Tidak mudah bagi seseorang untuk dapat merasakannya. Maka jangan heran, jika seseorang yang sedang dibersamai al Quran akan didekati oleh ujian-ujian atau ketidaknyamanan berikut ini;
1.      Ngantuk
Menghafal al Quran bukanlah sekedar tilawah, menghafal memiliki tingkat kenikmatan yang lebih besar, maka ketidaknyamanannya pun pasti jauh lebih besar.
2.      Cibiran Orang Lain
Melihat seseorang begitu sibuk dengan al Quran, biasanya akan dilontarkan komentar yang bermacam-macam, “ga gitu-gitu amat kali dengan al Quran”. Jangan menyerah, karena kebersamaan dengan al Quran merupakan kepentingan pribadi kita, walaupun kita sendirian.
3.      Handphone
Benda canggih ini sering kali menyita waktu kita, atau bahkan mengalihkan perhatian kita dari al Quran.
Pertanyaannya, dari mana ketidaknyamanan itu lahir? Barang tentu dari jiwa kita yang belum mampu beradaptasi dengan kesucian al Quran sebagai firman Allah swt Yang Maha Suci. Solusinya adalah; pertama, mujahadah dengan al Quran. Janji Allah dalam al Quran,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan itu, dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al Ankabut : 69
Kedua, bertahan. Ketidaknyamanan kita bersama al Quran disebabkan oleh tingkat keimanan kita yang belum mencapai standar. Dan ketika kita bertahan, sesungguhnya ayat-ayat yang kit abaca sedang berproses menaikkan tingkat keimanan kita. Sesuai dengan firman Allah swt;
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambah kuat imannya dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.” QS. Al Anfal : 2
Itulah penggalan-penggalan nasihat yang beliau kemukakan di sela-sela kebersamaan kami dengan al Quran. Sejatinya bukan hanya dua tema di atas yang dibahas oleh beliau, masih banyak lagi. Namun karena keterbatasan, untuk sementara itu saja yang dapat dibagi. Semoga bermanfaat dan turut dapat merasakan gemuruh batin kami yang sedang merindukan MQN 2 yang insya Allah akan diadakan 2-7 April di Yogyakarta.

Selasa, 15 Januari 2013

The Lady's Security Guard


Baru-baru ini booming pemberitaan soal pelecehan seksual paling ekstrem yaitu perkosaan. Beberapa waktu lalu wanita-wanita India pun berunjuk rasa menuntut keadilan pemerintah atas tindakan biadab tersebut. Sedangkan di Indonesia sendiri, masyarakat digelisahkan dengan pemberitaan kematian bocah berusia kelas lima SD yang setelah dilakukan uji forensik didapat luka yang tidak wajar pada bagian kelamin anak tersebut, sehingga tim yang menanganinya berasumsi bahwa anak itu adalah korban pelecehan seksual. Astaghfirullah, Na'udzu Billah...
Daripada gelisah dan galau tingkat dewa, sebaiknya kita jadikan kasus-kasus yang menimpa saudara-saudara kita sebagai pelajaran kehidupan. Sadar atau tidak, kesulitan-kesulitan orang lain yang membuat kita berhati-hati dan antisipatif atau bahkan merasa jauh lebih beruntung. Nah, di antara pembalajaran itu salah satunya adalah kita cari jawaban ilmiah mengapa ‘pilihan hina’ itu bisa terjadi. Walaupun bahasannya akan terkesan vulgar dan menimbulkan ekspresi “Oh yaaaa?!”, semoga setelah mempelajarinya kita dapat bertindak preventif agar terlindung dari ancaman itu.

Begini Friends, sebetulnya tidak perlu dilakukan identifikasi ilmiah untuk mengetahui perbedaan fisik antara pria dan wanita. Karena sudah jelas, pria identik dengan kekekaran sedangkan wanita khas dengan gemulai dan lekuk tubuh. Dilihat dari organ pun, ada organ-organ tertentu yang dimiliki wanita dan tidak dimiliki pria, begitu pula sebaliknya. Perbedaan itu pula yang mendorong dua insan berlainan jenis ini untuk hidup berpasangan dan saling menyempurnakan. Maka dalam berpasangan ini dibicarakanlah istilah cinta dan seks. Dua komponen ini sangatlah mendasar dalam kehidupan manusia. Dalam prakteknya, dua hal ini akan diatur oleh apa yang kita sebut dengan agama. Tidak perlu merasa disulitkan, karena sesungguhnya agama sangat memudahkan dan membuat segalanya menjadi baik. Contohnya jika seseorang ingin memenuhi kebutuhan biologis ya menikahlah jalannya, bukan jajan atau ngerampok.

Well, mengapa ‘perampokan’ bisa terjadi?
Secara khusus Allan Pease dan Barbara Pease melakukan penelitian mengenai seks dan cinta berdasarkan gender. Dalam bukunya Why Men Want Sex and Women Need Love mereka menerangkan bahwa dalam hal cinta dan seks pria dan wanita memiliki kepentingan yang amat berbeda. Testosteron, senyawa hormonal yang berperan besar dalam dorongan seks, pria memilikinya 20-30 kali lebih banyak dibandingkan wanita. Inilah sebabnya dorongan seks pada laki-laki bersifat lebih kuat dan sangat mendesak. Testosteron membuat pria memiliki lebih banyak rambut, lebih besar, lebih kuat, lebih agresif, dan lebih mudah terangsang dibandingkan wanita. Namun, pria memiliki jumlah oskitosin atau yang disebut dengan hormon penyayang yang jauh lebih sedikit dibanding wanita.

Pada tahun 2006, professor di Organizational Psychology Divison di Alliant International University San Fransisco, Rebecca Turner, PhD, menghasilkan penelitian bahwa hormone oksitosin merupakan perekat ikatan emosional manusia. Bila orang berpasang-pasangan atau jatuh cinta, maka akan timbul rasa hangat yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Tingkat oksitosin yang lebih pada wanita dibandingkan pria menyebabkan wanita jatuh cinta lebih dalam di awal hubungan. Semakin banyak hormone yang diproduksi semakin besar pula kecenderungan wanita untuk memelihara rasa itu dan semakin dalam pula mereka akan terikat dengan seseorang. Hanya dengan mendengar nama orang yang dicintainya, bau parfum, berfantasi akan meningkatkan level oksitosin pada tubuh wanita. Semua hal materialistik seperti rumah mewah, mobil baru, pakaian mahal, perhiasan, tidak dapat menyembunyikan kondisi emosionalnya. Jika ia merasa dicintai dan dikagumi, hormone dalam tubuhnya akan membuat aliran darah bergerak menuju bagian pipinya, membuatnya bersinar dan memancarkan kehangatan. Sama halnya ketika ia merasa diabaikan, emosi jiwanya akan mudah terlihat.

Dalam buku tersebut dipaparkan juga mengenai penelitian yang dilakukan oleh David Buss, bahwa ketika sepasang pria dan wanita saling jatuh cinta, tingkat testosterone pria menurun, sementara tingkat oksitosinnya meningkat sehingga proses ketertarikan menjadi lebih cepat. Hal ini membuat pria menjadi lebih lembut, lebih peka dan lebih santai. Di saat bersamaan, testosteron pada wanita meningkat akibat kegirangan dan rasa percaya diri yang mereka rasakan pada awal hubungan. Tingkat testosteron yang meningkat itu membuat wanita lebih mudah terangsang, menciptakan ilusi bahwa dorongan seksual pria dan wanita pastilah sama. Sekitar tiga hingga sembilan bulan dari awal hubungan cinta, dorongan seksual kembali ke posisi awal, pria mendapat kesan bahwa wanita sudah tidak tertarik pada seks dan wanita menganggap bahwa pasangannya hanyalah seorang seks maniak.
Beda bukan? Maka jangan heran jika ada yang mengatakan bahwa laki-laki akan merasa pusing dan linglung saat ia melihat wanita mengenakan hotpants, rok mini, atasan berkerah terbuka dan berbagai macam pakaian yang memamerkan bentuk tubuh dan kecantikannya. Diceritakan dalam penelitian lain bahwa ketika pria melihat lengan, betis jenjang wanita atau bagian tubuh lain maka ia akan mudah berfantasi “telanjang” atas apa yang dipandangnya. Bahkan ada yang lebih hebring lagi, laki-laki dapat memenuhi kebutuhan biologis tanpa cinta atau pertimbangan apapun, yang hal ini sangat bertentangan dengan pemikiran wanita. Dan ironisnya dalam kondisi seperti ini pun wanita banyak yang tidak menyadari ancaman yang mengincarnya. Secara psikolgis ia lebih senang disanjung dan dipuja. Terkadang karena dorongan kebutuhan psikologisnya ini ia tidak malu lagi memperlihatkan hal-hal berharga yang dimilikinya agar terkesan mempesona dan memikat. Andai saja wanita tahu bahwa kalimat “kamu cantik dan mengagumkan atau kamu terlihat menawan” diterjemahkan oleh seorang pakar “wajahmu terlihat simetris dan cerah, tandanya kamu akan berhasil meneruskan gen milikku. Maka aku ingin segera berhubungan seks denganmu.”

Ngeri ya?!!!!
Bak gayung bersambut, ketika laki-laki digambarkan dengan psikologis seperti ini, kaum hawa justeru ‘asik’ dengan style body show off. Terlebih Jakarta, hotpant menjamur di mana-mana. *Banyak-banyak nunduk atau liat langir ya kalau ke Ibu Kota. Nah, Friends, ga ada kata terlambat kok, ga ada kata terlanjur, semua keburukan bisa dihapus dengan kebaikan. Daripada kelamaan mikir, mending segera ambil sikap yang tepat yuk!. Pilihan tepat itu ada dalam tawaran Islam yaitu sebuah security guard bernama JILBAB untuk menjaga wanita dari kemungkinan-kemungkinan terburuk. And my lovely friends, jangan lupa untuk padukan jilbab dengan pakaian longgar ya, dijamin kamu tambah kece dan AMAN…

Gimana cara pakai jilbab? Gampang! Pergi ke tukang jilbab, transaksi, dan bawa pulang deh… di rumah, you bisa buka-buka Mbah Gugel buat cari tutorial hijab. Enteng kan? Untuk mendapatkan pakaian muslimah caranya juga sama. Selamat berjuang! Setelah mencoba jangan lupa untuk ketagihan, terus lekatkan jilbabnya yaaaa…