Sabtu, 22 Desember 2012

Sekolah Pertama Itu Bernama Ibu

“Seorang perempuan adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjwaban atas kepemimpinannya.”
Secara structural kemasyarakatan, keluarga merupakan mini kingdom dan seorang Ibu adalah ratunya. Ia bertanggung jawab terhadap generasi yang dilahirkannya sejak ditiupkan ruh kehidupan pada janin. Peranannya tidak dapat ditandingi oleh siapapun, Ibu adalah guru dunia.

Namun hari ini, sebagaimana kita ketahui bersama, umat sedang mengalami dekadensi moral dan terjangkiti penyakit-penyakit sosial yang semakin menggejala dan menggurita. Akar persoalan yang kompleks dan membingungkan langkah-langkah penyelesainnya. Di kampung, di kota, rumah, di sekolah, di pasar, di gedung-gedung menjulang, di panggung perpolitikan, serta di semua lini kehidupan.

Maka fondasi perbaikan utama bangsa ini adalah Ibu. Dialah yang tangannya mampu dengan lembut menggoyang ayunan dan sekaligus mengguncang dunia. Tugas kita hari ini adalah mengembalikan peran-peran berikut actornya sesuai dengan porsi masing-masing. Bermula dari kesadaran yang utuh tentang diri wanita, dengan berbagai potensi yang dimilikinya, ia bermetamorfosis dari satu fase ke fase berikutnya. Perubahan status pasca pernikahan, dalam kondisi ideal, ia akan naik pangkat menjadi Ibu. Maka seyogyanya, seorang Ibu ditempatkan sebagai Ibu, dihidupkan jati diri keibuannya sehingga ia bangga menjalankan kewajibannya. 

Melahirkan, merawat, membesarkan dan mendidik anak-anaknya tanpa harus merasa minder, rendah diri, atau terbelakang. Karena sesungguhnya peran-peran mulia ini hanya akan terjalankan dengan baik jika para wanita –dalam hal ini – khususnya Ibu yang menjalaninya.
Ada tiga hal yang harus disadari para wanita, khususnya Ibu, berkaitan dengan perannya di dalam rumah sebagai pendidik.  

Pertama, di dalam al Quran akan banyak ditemukan sami’un bashir, sama’ wal bashor, dan tidak ditemukan bashirun sami’, atau bashor wa sama’. Atau dengan kata lain, Allah mengedepankan kata sami’ sebelum bashir, pendengaran sebelum penglihatan. Hal ini dimaknai mufassir sekaligus diungkap oleh penelitian bahwa Allah lebih dulu menciptakan pendengaran sebelum penglihatan. Janin mampu merekam setiap kejadian yang didengarnya di luar rahim. Aktivitas pendidikan sudah dimulai. Secara alamiah anak akan mengadopsi emosi kejiwaan yang ditularkan sang Ibu. Jika Ibu seorang yang hangat dan ramah, dapat diharapkan anaknya pun demikian. Jika Ibu seorang keras dan dan selalu memaksakan kemauan, akan tercermin pula dalam watak anaknya. Dalam buku karangan Yusuf Qardhawi yang berjudul, “kaifa nata’amalu ma’al Qur’an” diceritakan, di Irak terdapat seorang anak usia 9 tahun, sudah berhasil menghafal al Qur’an 30 juz, 300 hadits beserta sanadnya, dan menjelaskan isi buku-buku yang dibacanya. Dalam suatu kesempatan Ibunya ditanya tentang metode apa yang ia praktekan sehingga terlahir anak dengan kecerdasan demikian, maka jawaban sang ibu, “selama saya mengandungnya, saya tidak pernah berhadats, senantiasa menjaga wudhu walaupun tidak untuk shalat.”


Kedua, secara psikologis, ikatan batin antara anak dan Ibu lebih kuat, karena pada fitrahnya seorang Ibu memiliki banyak karakter kejiwaan yang dibutuhkan anak. Ketika anak dilahirkan, teriakan tangisnya memberikan rasa rileks, menghilangkan rasa lelah sang Ibu yang telah berjam-jam menjalani proses persalinan. Kemudian dipandang dan ditimang, Ibu telah menyelesaikan satu tugas yang tidak dapat dilakukan oleh kaum pria. Kontak fisik pertama kali ia alami hanya dengan ibunya. Anak merasakan kasih sayang, indra peraba yang berkembang cepat mampu membedakan antara sentuhan ibunya dan yang lain.

Ketiga, secara kodrati, walaupun di zaman modern disajikan berbagai macam pilihan karir untuk seorang wanita, tetapi tetap tak tergantikan, Ibu lebih baik dalam melaksanakan tugas-tugas perawatan,  ia memiliki rasa kasih sayang yang lebih besar daripada seorang ayah. Oleh karenanya interaksi yang didasari ketulusan dan kesabaran akan memudahkan tersampaikannya nilai-nilai positif kepada anak. Di samping intensitas kebersaman Ibu yang jauh lebih banyak dibanding ayah.

Nilai-nilai pendidikan yang diajarkan Ibu kepada anaknya bukan sekedar bagaimana menyelesaikan soal-soal matematika, fisika, biologi, bahasa Inggris, melainkan suatu nilai kehidupan yang dapat dipastikan nilai-nilai tersebut belum tentu didapatkan di lembaga-lembaga pendidikan. Seorang Ibu harus berjuang mengokohkan prinsip-prinsip dan pemikiran yang matang dalam benak putra putrinya. Keteladanan sifat-sifat yang baik, attitude dan nilai-nilai moral akan mampu memberi inspirasi dan prototype bagi anak-anaknya. Banyak kita ketahui bahwa dibalik keberhasilan seseorang selalu berdiri kokoh di belakangnya seorang Ibu yang hebat.






Dedicated For My lovely Ukhti Muslimah, Happy Mothers Day, 22 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar