Sabtu, 05 Januari 2013

Menyulam Sutera dari Habibie Ainun

Habibie Ainun, ketika film ini launching, terdetik keinginan dalam hati saya untuk menontonnya. Namun keinginan itu terpatahkan dengan pemikiran, “kalau mau tahu baca aja bukunya langsung, ke bioskop bayar, buang waktu pula”. Kali kedua ajakan untuk menontonnya datang dari adik tingkat di kampus. “Kak, yu nonton…”, sebagai orang plegmatis kadang sulit menolak ajakan. Accepted deh. Kami pergi ke bioskop bermaksud membeli tiket film tersebut. Sesampainya di tiket box, kami terperangah mendengar harga tiket yang labih mahal dari biasanya. Prediksi kami hanya 25.000, dan ternyata harganya 35.000. Budget membengkak 10.000, kami mundur. Dua kali gagal saya nilai sebagai rambu-rambu dari Allah agar saya tidak sampai bertransaksi di bioskop. Karena hati saya dihinggapi rasa dilematis, tidak dapat dipungkiri, mall-mall selalu identic dengan tempat kemaksiatan, setidaknya ia adalah gelanggang muda mudi untuk berpacaran, memamerkan aurat, dan lain-lain.
Tidak sampai di situ, ajakan kali ketiga datang dari seseorang yang baru berhijrah dari pulau Sumatera ke Ibu Kota. Kami belum pernah bersua. Sempat beberapa kali mengatur jadwal kapan kita bisa bertemu, namun belum berhasil. Dan… kali ini beliau mengajak saya bertemu sambil menonton Habibie Ainun. Dengan pertimbangan semoga bisa belajar banyak hal dan “agenda silaturahim”, ajakan beliau saya terima. Saya rasa sudahlah tidak apa-apa, barangkali ke depannya akan sulit bertemu, toh sejak pertama dikenalkan juga gagal terus jadwal bertemunya, mungkin inilah saat yang tepat.
Singkat cerita kami bertemu di cinema, berkenalan singkat lalu larut dalam cerita romantis Habibie Ainun. Kadang-kadang ruang bercahaya remang itu riuh rendah dengan gelak tawa, lalu bisu, atau terdengar decakan kagum.
Dan seperti dugaan saya, pertimbangan ‘semoga bisa belajar banyak hal’ yang menuntun saya untuk duduk di ruangan itu benar adanya. Dalam derapan langkah menuju pintu keluar bioskop, saya yakin masing-masing kepala memiliki ‘sulaman’ masing-masing tentang apa yang patut dijadikan nilai hidup dari tayangan tersebut. Sementara untuk saya pribadi, izinkan saya share di dalam blog ini apa-apa yang saya petik dengan harapan semoga menjadi tunas-tunas kemanfaatan bagi diri sendiri dan yang lain. Di antaranya sebagai berikut, J
1.      Impian. Ahalaamul Yaum Waqi’ul Ghad, mimpi hari ini adalah kenyataan esok. Mungkin sebagian kita tidak asing lagi sengan ungkapan tadi. Kalimat  itu diungkapkan oleh seseorang yang namanya berpengaruh di dunia hingga kini, walau jasadnya sudah dikebumikan, Syahid Hasan Al Banna. Rudi Habibie (Aktor utama Habibie Ainun) bermula sebagai orang yang tidak begitu diperhitungkan, bahkan disepelekan. Namun karena kekokohan tekad, keyakinan dan kebersandaran pada Sang Khaliq, ia tidak takut mengikrarkan impiannya. Mimpi itu gratis, yang bayar adalah pencapaiannya. Tetapi betapa miskin bila sesuatu yang digratiskan saja tidak dimiliki. “Saya akan membuat pesawat terbang untuk menghubungkan kepulauan di nusantara.” Tanggal 10 Agustus 1995, Gatot Koco, pesawat terbang yang beliau rintis untuk kali pertama diterbangkan di IPTN, Bandung sekaligus hadiah ulang tahun kepada istri, Ibu Ainun. Maka melalui fakta itu, saya mencerna bahwa hakikatnya beliau hendak berpesan, “Jangan takut bermimpi dan nyatakan dengan tindakan. Tuhan selalu merestui.”
2.      Peran istri. Sosok Ainun menggambarkan karakter istri yang tenang, matang dalam berfikir, penuh pertimbangan dan tegas. Soal ketaatannya kepada suami tidak diragukan lagi. Profesi dokter yang dijalaninya tidak tanggung-tanggung untuk ditinggalkan ketika suami memintanya untuk fokus mengurusi rumah, khususnya anak-anak. Riset yang dilakukan oleh Maria Kancen dan Deborah Reed bahwa keberadaan suami dan istri dalam sebuah rumah dalam keadaan harmonis bisa meningkatkan mental keduanya, hingga mampu meningkatkan produktifitas yang lebih besar. Dalam hal ini diperlukan kiprah istri sebagai penawar kemelut suami di luar rumah. Maka tidak perlu ditanya lagi mengapa Habibie terkesan ‘mudah’ mencapai impian-impian hidupnya karena tentu di belakangnya berdiri seorang istri yang memiliki sikap-sikap jiwa yang beliau butuhkan. Tidak pula berlebihan ketika Habibie menulis sebuah puisi untuk almarhum istrinya;

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti. dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. 
Melainkan yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tidak pada tempatnya, dan tubuhku seperti kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu Sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, melainkan rasanya terlalu sebentar kau di sini.
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu Sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Kau dariNya dan kembali padaNya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada. Selamat jalan sayang, cahaya mataku penyejuk jiwaku. Selamat jalan calon bidadari surgaku.
3.      Kebenaran janji Allah. Jika mereka miskin maka Allah akan mengkayakannya. – An Nuur 32 – Jika dibaca keseluruhan, secara eksplisit ayat ini ditujukan untuk hamba Allah yang memilih menyelamatkan kehormatan dengan menikah. Andaipun kondisinya dalam kesempitan maka Dia berjanji akan melapangkan. Gambaran menarik dari cerita Habibie Ainun, ketika Ainun mengandung anak pertamanya, finansial mereka sangat pas-pasan. Tinggal di rumah kecil, sempit, dan makan dengan menu seadanya. Bahkan beliau harus berjalan kaki dari lokasi kerja ke rumahnya karena sisa uangnya tidak cukup untuk membayar ongkos kereta hingga sepatunya jebol dan disumpel dengan lipatan kertas. Lalu setelah anak pertamanya lahir, Allah membuktikan kegigihan Habibie. Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sebelum ia mengubahnya. Karirnya semakin maju dan menjanjikan. Kini dunia mengenal beliau sebagai mantan pemimpin negara, presiden ketiga Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4.      Prioritas. Berkuasa tidak mesti menjabat, manifestasi cinta pada pertiwi bukan dengan jalan menguasai melainkan dengan karya-karya yang membuahkan kemanfaatan. Terus terang saya tidak begitu faham dengan tujuan-tujuan politis di balik film tersebut. Namun merupakan sikap yang sangat berkarakter ketika Habibie memutuskan untuk tidak mencalonkan kembali menjadi presiden ketika ia lengser dari jabatannya. Beliau memilih ‘rumah lama’ yaitu fokus dengan karya-karya besarnya.
5.      Potret dua negeri yang kontradiktif. Rumah pertama – Indonesia – dan rumah kedua, Jerman. Jerman digambarkan dengan profesionalitas sedangkan Indonesia identic dengan korupsi, risywah dan serakah. Kapabilitas seseorang seperti tidak bernilai jika kaidah yang dipakai adalah KKN. Sebaliknya nilai-nilai materialistic menjadi sangat berharga dan menentukan.
Demikian pelajaran yang dapat saya dulang dari film Habibie Ainun. Saya tidak bermaksud jualan atau dengan sukarela mempromosikan. Ini semata penegasan terhadap diri saya pribadi mengenai apa-apa yang harus diteladani. Allahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar