|
Habibie
Ainun, ketika film ini launching, terdetik keinginan dalam hati saya untuk
menontonnya. Namun keinginan itu terpatahkan dengan pemikiran, “kalau mau
tahu baca aja bukunya langsung, ke bioskop bayar, buang waktu pula”. Kali
kedua ajakan untuk menontonnya datang dari adik tingkat di kampus. “Kak, yu
nonton…”, sebagai orang plegmatis kadang sulit menolak ajakan. Accepted
deh. Kami pergi ke bioskop bermaksud membeli tiket film tersebut. Sesampainya di
tiket box, kami terperangah mendengar harga tiket yang labih mahal dari
biasanya. Prediksi kami hanya 25.000, dan ternyata harganya 35.000. Budget
membengkak 10.000, kami mundur. Dua kali gagal saya nilai sebagai rambu-rambu
dari Allah agar saya tidak sampai bertransaksi di bioskop. Karena hati saya
dihinggapi rasa dilematis, tidak dapat dipungkiri, mall-mall selalu identic
dengan tempat kemaksiatan, setidaknya ia adalah gelanggang muda mudi untuk
berpacaran, memamerkan aurat, dan lain-lain.
Tidak
sampai di situ, ajakan kali ketiga datang dari seseorang yang baru berhijrah
dari pulau Sumatera ke Ibu Kota. Kami belum pernah bersua. Sempat beberapa kali
mengatur jadwal kapan kita bisa bertemu, namun belum berhasil. Dan… kali ini
beliau mengajak saya bertemu sambil menonton Habibie Ainun. Dengan pertimbangan
semoga bisa belajar banyak hal dan “agenda silaturahim”, ajakan beliau saya
terima. Saya rasa sudahlah tidak apa-apa, barangkali ke depannya akan sulit
bertemu, toh sejak pertama dikenalkan juga gagal terus jadwal bertemunya,
mungkin inilah saat yang tepat.
Singkat
cerita kami bertemu di cinema, berkenalan singkat lalu larut dalam cerita
romantis Habibie Ainun. Kadang-kadang ruang bercahaya remang itu riuh rendah
dengan gelak tawa, lalu bisu, atau terdengar decakan kagum.
Dan
seperti dugaan saya, pertimbangan ‘semoga bisa belajar banyak hal’ yang
menuntun saya untuk duduk di ruangan itu benar adanya. Dalam derapan langkah
menuju pintu keluar bioskop, saya yakin masing-masing kepala memiliki ‘sulaman’
masing-masing tentang apa yang patut dijadikan nilai hidup dari tayangan
tersebut. Sementara untuk saya pribadi, izinkan saya share di dalam blog ini
apa-apa yang saya petik dengan harapan semoga menjadi tunas-tunas kemanfaatan
bagi diri sendiri dan yang lain. Di antaranya sebagai berikut, J
1. Impian. Ahalaamul Yaum Waqi’ul Ghad,
mimpi hari ini adalah kenyataan esok. Mungkin sebagian kita tidak asing
lagi sengan ungkapan tadi. Kalimat itu
diungkapkan oleh seseorang yang namanya berpengaruh di dunia hingga kini, walau
jasadnya sudah dikebumikan, Syahid Hasan Al Banna. Rudi Habibie (Aktor
utama Habibie Ainun) bermula sebagai orang yang tidak begitu diperhitungkan, bahkan
disepelekan. Namun karena kekokohan tekad, keyakinan dan kebersandaran pada
Sang Khaliq, ia tidak takut mengikrarkan impiannya. Mimpi itu gratis, yang
bayar adalah pencapaiannya. Tetapi betapa miskin bila sesuatu yang digratiskan
saja tidak dimiliki. “Saya akan membuat pesawat terbang untuk menghubungkan
kepulauan di nusantara.” Tanggal 10 Agustus 1995, Gatot Koco, pesawat
terbang yang beliau rintis untuk kali pertama diterbangkan di IPTN, Bandung
sekaligus hadiah ulang tahun kepada istri, Ibu Ainun. Maka melalui fakta itu,
saya mencerna bahwa hakikatnya beliau hendak berpesan, “Jangan takut
bermimpi dan nyatakan dengan tindakan. Tuhan selalu merestui.”
2. Peran istri. Sosok Ainun menggambarkan
karakter istri yang tenang, matang dalam berfikir, penuh pertimbangan dan
tegas. Soal ketaatannya kepada suami tidak diragukan lagi. Profesi dokter yang
dijalaninya tidak tanggung-tanggung untuk ditinggalkan ketika suami memintanya
untuk fokus mengurusi rumah, khususnya anak-anak. Riset yang dilakukan oleh Maria
Kancen dan Deborah Reed bahwa keberadaan suami dan istri dalam
sebuah rumah dalam keadaan harmonis bisa meningkatkan mental keduanya, hingga
mampu meningkatkan produktifitas yang lebih besar. Dalam hal ini diperlukan
kiprah istri sebagai penawar kemelut suami di luar rumah. Maka tidak perlu
ditanya lagi mengapa Habibie terkesan ‘mudah’ mencapai impian-impian hidupnya
karena tentu di belakangnya berdiri seorang istri yang memiliki sikap-sikap
jiwa yang beliau butuhkan. Tidak pula berlebihan ketika Habibie menulis sebuah
puisi untuk almarhum istrinya;
Sebenarnya ini bukan tentang
kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi
tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti. dan kali ini
adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Melainkan yang membuatku tersentak
sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan
kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku
nelangsa setengah mati, hatiku seperti tidak pada tempatnya, dan tubuhku
seperti kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu Sayang, rasanya seperti angin
yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada air mata yang jatuh kali
ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir,
pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, melainkan
rasanya terlalu sebentar kau di sini.
Mereka mengira akulah kekasih yang baik
bagimu Sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih
yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang
kecenderunganku mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau
ajarkan aku cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Kau dariNya dan kembali padaNya, kau
dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada. Selamat jalan sayang, cahaya
mataku penyejuk jiwaku. Selamat jalan calon bidadari surgaku.
3. Kebenaran janji Allah. Jika mereka
miskin maka Allah akan mengkayakannya. – An Nuur 32 – Jika dibaca
keseluruhan, secara eksplisit ayat ini ditujukan untuk hamba Allah yang memilih
menyelamatkan kehormatan dengan menikah. Andaipun kondisinya dalam kesempitan
maka Dia berjanji akan melapangkan. Gambaran menarik dari cerita Habibie Ainun,
ketika Ainun mengandung anak pertamanya, finansial mereka sangat pas-pasan.
Tinggal di rumah kecil, sempit, dan makan dengan menu seadanya. Bahkan beliau
harus berjalan kaki dari lokasi kerja ke rumahnya karena sisa uangnya tidak
cukup untuk membayar ongkos kereta hingga sepatunya jebol dan disumpel
dengan lipatan kertas. Lalu setelah anak pertamanya lahir, Allah membuktikan
kegigihan Habibie. Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sebelum ia
mengubahnya. Karirnya semakin maju dan menjanjikan. Kini dunia mengenal
beliau sebagai mantan pemimpin negara, presiden ketiga Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
4. Prioritas. Berkuasa tidak mesti
menjabat, manifestasi cinta pada pertiwi bukan dengan jalan menguasai melainkan
dengan karya-karya yang membuahkan kemanfaatan. Terus terang saya tidak begitu
faham dengan tujuan-tujuan politis di balik film tersebut. Namun merupakan
sikap yang sangat berkarakter ketika Habibie memutuskan untuk tidak mencalonkan
kembali menjadi presiden ketika ia lengser dari jabatannya. Beliau memilih
‘rumah lama’ yaitu fokus dengan karya-karya besarnya.
5. Potret dua negeri yang kontradiktif.
Rumah pertama – Indonesia – dan rumah kedua, Jerman. Jerman digambarkan dengan
profesionalitas sedangkan Indonesia identic dengan korupsi, risywah dan
serakah. Kapabilitas seseorang seperti tidak bernilai jika kaidah yang dipakai
adalah KKN. Sebaliknya nilai-nilai materialistic menjadi sangat berharga dan
menentukan.
Demikian pelajaran yang
dapat saya dulang dari film Habibie Ainun. Saya tidak bermaksud jualan atau
dengan sukarela mempromosikan. Ini semata penegasan terhadap diri saya pribadi
mengenai apa-apa yang harus diteladani. Allahu a’lam.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar