Sabtu, 22 Desember 2012

Tentang Mereka Yang Merindukanmu…


Dalam sebuah focus group discussion (FGD), berkumpulah para mahasiswa dari berbagai belahan nusantara, dengan macam-macam latar belakang suku, intelektualitas, dan spesialisasi keahlian. Setelah beberapa menit dimanfaatkan masing-masing kelompok untuk berdiskusi, tibalah saatnya kesempatan bagi mereka untuk menyajikan hasil diskusi di depan forum.
Topic yang menjadi bahan perbincangan terbilang sederhana, “apakah kita wajib terikat dengan satu madzhab?”,

Seorang juru bicara suatu kelompok menyampaikan statement berikut argumentasinya. Retorika yang panjang berdasarkan pada logika dan pemahamannya. Lalu saling bersahutan dengan juru bicara dari kelompok yang lain. Masing-masing bersikukuh dengan pendapatnya. Gaduh.
Singkat cerita, do’a kafaratul majlis membubarkan peserta FGD. Mungkin pada sebagian hati terselit kekesalan, kepuasan, dan lain lain-lain berkenaan dengan perjuangannya mempertahankan pendapat.

Penulis yakin, kisah seperti ini banyak mewarnai moment-moment perjalanan kita sebagai mahasiswa. Inilah gambaran nyata, fenomena kegagapan teman-teman kita di belahan nusantara tentang kebutuhannya akan sosok du’at untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang melanda sebagian besar masyarakat kita.

Ada sejumlah pertanyaan – khususnya tentang abwab aqidah dan fiqhiyyah – yang sangat diharapkan jawaban bijak atasnya, lalu mereka kebingungan pada siapa pertanyaan itu harus diajukan. Di tengah lesatan kemajuan teknologi informasi, maka pada akhirnya pertanyaan itu diketik di kolom search prof google. Lalu munculah jawabannya. Tidak peduli, benar atau salah.

Fakta lain, kondisi di atas mungkin juga berbeda dengan situasi kita. Mahasiswa mulia yang setiap hari disuapi arab-arab gundul, ceramah-ceramah bijak para ustadz, arus ideology homogen, nyaris tidak ada perbedaan. Comfortable. Islam itu di sini. Surga terasa dekat.
“teman, di dunia ini masih banyak yang membutuhkan tenagamu…”- New Police Story

Dunia itu mungkin kampung halaman kita, mungkin juga teman-teman perjuangan kita di kampus-kampus lain. Mereka yang setiap hari mengkontraksikan otot-ototnya demi memertahankan keimanan, ideology Islam yang dianutnya setiap saat berpeluang diobrak-abrik, dibuat seperti kapal pecah, hingga tidak jelas proyeksi dan bentuknya.

Di pelosok-pelosok negeri yang mungkin kebanyakan kita berasal dari sana, meronta-ronta jiwa yang kebingungan dengan apa cintanya kepada Tuhan dan utusanNya harus diejawantahkan. Tidak tahu, iya. Mereka duduk berkumpul, lisannya berlumuran dengan dzikir, beribu-ribu. Tidak ada urusan ini harus dilakukan atau tidak, hanya konon, menurut pak Yai, jika ini dilakukan akan berkhasiat anu dan anu.
Belum lagi fenomena penghancuran ideology masyarakat melalui tayangan-tayangan televisi, semua disulap dengan lincah agar klise-klisenya dibenarkan oleh logika masyarakat. MBA, narkoba, broken home, dkk, naik statusnya dari tabu menjadi biasa. Bahkan ironisnya, dikatakan asing jika seluruh rangkaian hidup dijalankan dengan baik dan ideal menurut Islam.

Dalam pertempuran ini, di mana posisi kita? Karena dalam arus kehidupan ini hanya ada dua aliran ; perbaikan dan perusakan. Jika kita tidak aktif dalam agenda-agenda perbaikan, maka bisa jadi diamnya kita adalah aktivitas perusakan.

Relakah panggung-panggung dongeng kehidupan ini diperani oleh mereka yang tidak menginginkan kebaikan kecuali hanya untuk diri dan kelompoknya, lalu kita tersisih sebagai pemain yang ragu-ragu dan tidak punya kapabilitas?
Mari kita siapkan secukup-cukup bekal, sebaik-baik pantas, untuk suatu hari, yang bisa jadi hari itu adalah hari ini atau esok, kita akan menemui orang-orang yang menantikan kehadiran kita, merindukan sosok-sosok du’at yang bertatahkan emas, kualitasnya baik, dan mereka harapkan tindakan-tindakannya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Dan sekali lagi, du’at terbaik yang bertatahkan emas menurut persepsi mereka adalah KITA.
Allahu a’lam, semoga berbekas kemanfaatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar