Dalam
sebuah focus group discussion (FGD), berkumpulah para mahasiswa dari berbagai
belahan nusantara, dengan macam-macam latar belakang suku, intelektualitas, dan
spesialisasi keahlian. Setelah beberapa menit dimanfaatkan masing-masing
kelompok untuk berdiskusi, tibalah saatnya kesempatan bagi mereka untuk
menyajikan hasil diskusi di depan forum.
Topic
yang menjadi bahan perbincangan terbilang sederhana, “apakah kita wajib terikat
dengan satu madzhab?”,
Seorang
juru bicara suatu kelompok menyampaikan statement berikut argumentasinya.
Retorika yang panjang berdasarkan pada logika dan pemahamannya. Lalu saling
bersahutan dengan juru bicara dari kelompok yang lain. Masing-masing bersikukuh
dengan pendapatnya. Gaduh.
Singkat
cerita, do’a kafaratul majlis membubarkan peserta FGD. Mungkin pada sebagian
hati terselit kekesalan, kepuasan, dan lain lain-lain berkenaan dengan
perjuangannya mempertahankan pendapat.
Penulis
yakin, kisah seperti ini banyak mewarnai moment-moment perjalanan kita sebagai
mahasiswa. Inilah gambaran nyata, fenomena kegagapan teman-teman kita di
belahan nusantara tentang kebutuhannya akan sosok du’at untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan yang melanda sebagian besar masyarakat kita.
Ada
sejumlah pertanyaan – khususnya tentang abwab aqidah dan fiqhiyyah – yang
sangat diharapkan jawaban bijak atasnya, lalu mereka kebingungan pada siapa
pertanyaan itu harus diajukan. Di tengah lesatan kemajuan teknologi informasi,
maka pada akhirnya pertanyaan itu diketik di kolom search prof google. Lalu
munculah jawabannya. Tidak peduli, benar atau salah.
Fakta
lain, kondisi di atas mungkin juga berbeda dengan situasi kita. Mahasiswa mulia
yang setiap hari disuapi arab-arab gundul, ceramah-ceramah bijak para ustadz, arus
ideology homogen, nyaris tidak ada perbedaan. Comfortable. Islam itu di sini.
Surga terasa dekat.
“teman,
di dunia ini masih banyak yang membutuhkan tenagamu…”- New Police Story –
Dunia
itu mungkin kampung halaman kita, mungkin juga teman-teman perjuangan kita di
kampus-kampus lain. Mereka yang setiap hari mengkontraksikan otot-ototnya demi
memertahankan keimanan, ideology Islam yang dianutnya setiap saat berpeluang
diobrak-abrik, dibuat seperti kapal pecah, hingga tidak jelas proyeksi dan
bentuknya.
Di
pelosok-pelosok negeri yang mungkin kebanyakan kita berasal dari sana,
meronta-ronta jiwa yang kebingungan dengan apa cintanya kepada Tuhan dan
utusanNya harus diejawantahkan. Tidak tahu, iya. Mereka duduk berkumpul,
lisannya berlumuran dengan dzikir, beribu-ribu. Tidak ada urusan ini harus
dilakukan atau tidak, hanya konon, menurut pak Yai, jika ini dilakukan akan
berkhasiat anu dan anu.
Belum
lagi fenomena penghancuran ideology masyarakat melalui tayangan-tayangan
televisi, semua disulap dengan lincah agar klise-klisenya dibenarkan oleh
logika masyarakat. MBA, narkoba, broken home, dkk, naik statusnya dari tabu
menjadi biasa. Bahkan ironisnya, dikatakan asing jika seluruh rangkaian hidup dijalankan
dengan baik dan ideal menurut Islam.
Dalam
pertempuran ini, di mana posisi kita? Karena dalam arus kehidupan ini hanya ada
dua aliran ; perbaikan dan perusakan. Jika kita tidak aktif dalam agenda-agenda
perbaikan, maka bisa jadi diamnya kita adalah aktivitas perusakan.
Relakah
panggung-panggung dongeng kehidupan ini diperani oleh mereka yang tidak
menginginkan kebaikan kecuali hanya untuk diri dan kelompoknya, lalu kita
tersisih sebagai pemain yang ragu-ragu dan tidak punya kapabilitas?
Mari
kita siapkan secukup-cukup bekal, sebaik-baik pantas, untuk suatu hari, yang
bisa jadi hari itu adalah hari ini atau esok, kita akan menemui orang-orang
yang menantikan kehadiran kita, merindukan sosok-sosok du’at yang bertatahkan
emas, kualitasnya baik, dan mereka harapkan tindakan-tindakannya dalam
menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Dan sekali lagi, du’at terbaik yang
bertatahkan emas menurut persepsi mereka adalah KITA.
Allahu
a’lam, semoga berbekas kemanfaatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar