Kesaksian
lelaki legam itu mengakhiri masa perbudakannya. Ia berislam di tangan Abu Bakr
Ash Shiddiq ra. Dua kalimah syahadat benar-benar mengubah kedudukannya. Status
sosial “budak” diangkat oleh Rasulullah menjadi muadzin dan tidak segan bagi
Amirul Mukminin Umar ra ketika disebutkan di hdapannya nama Abu Bakr, maka ia
berujar, “Abu Bakr sayyiduna wa a’taqo sayyidana”. Sayyid, tuan, sebutan
itu yang Umar panggilkan kepada orang Habasyi itu, Bilal bin Rabah.
Selalu
ada penderitaan sebelum kemenangan. Harus ada tangisan darah dalam perjuangan.
Bilal, lelaki yang masuk surga sebelum mati itu harus menanggung siksaan dari
majikannya yang dzalim, Umayyah. Di terik panggangan gurun, jasadnya ditimpai
bongkahan batu besar. Hina, sehina hinanya Bilal. Budak yang tak berharga,
membangkang pada sang tuan. Itu kacamata Umayyah. Sedangkan RabbNya menghendaki
ia menuju langit kemuliaan. Keyakinannya tidak goyah semata karena takut pada
ia yang memberinya makan. Ahad, ahad, ahad, ideology tauhid itu sudah mengakar
kuat. Mengusir rasa takut dan khawatir. Hanya keyakinan, murni, tanpa ada
campuran keraguan setitik pun.
Demikian
halnya dengan pemuda tampan yang syahid di medan Uhud itu. Sikap protes Ibunya
tidak membuatnya bergeming. Tauhid harga mati.
Demikian
penggalan kisah silam. Cerita manusia-manusia pertama yang Allah pilih untuk
mendampingi kekasihnya. Jenak-jenak yang tidak mungkin berulang.
Yang
harus kita lakukan di abad 15 belas catatan sejarah peradaban Islam tentu bukan
meratapi atau berandai-andai masa kenabian itu diputar ulang. Mustahil. Karena
Allah sudah mengakhiri pengutusan Rasulullah dengan diturunkannya Muhammad saw.
Tugas kita hari ini adalah bagaimana menerjemahkan kemenangan-kemenangan
sejarah menjadi cara untuk memenangkan kembali Islam hari ini.
Tentu
ada kondisi yang kontradiktif. Sejarah menggambarkan, Islam Allah turunkan kal
itu ibarat lilin, dinyalakan dalam sumbu hati sebagian kecil manusia di tengah
masyarakat jahiliyyah. Kaum minoritas itu dihadang berbagai ancaman, siksaan, real,
hingga wafatnya Khadijah ra pasca pemboikotan kuffar terhadap kaum muslimin.
Kecil, namun kekuatannya mampu mengusir jahiliyyah dari tanah Makkah. Bagaimana
bisa? Sedangkan hari ini, khususnya di Negara Indonesia, Islam sebatas bahasa
persentase, sekian pemeluk dari sekian ratus juta penduduk. Besaran jumlahnya
tidak menjadi isyarat kejayaannya. Bahkan kadang, mendengar kata “muslim”
“Islam” diidentikan dengan kemunduran; miskin, terror, lemah intelektual,
gagap.
Rupanya
ada perbedaan yang sangat kontras antara sikap jiwa kaum muslimin di 15 abad
lalu dan hari ini. Saat itu, Islam mewatak dalam jiwa kaum muslimin. Kita lihat
bagaimana Bilal dengan begitu idealis mempertahankan aqidahnya di hadapan
majikan. Mush’ab yang tidak merasa takut kehilangan keluarga, dibenci,
ditinggalkan. Itu hanya gebrakan kecil. Masih terbentang medan ujian di
hadapannya. Begitu pula dengan penduduk Yatsrib, dedikasinya kepada dakwah
Rasulullah saw membuat mereka mendapat sebutan yang tidak diberikan pada kaum
lain, Anshor (penolong). Demikian halnya dengan para shahabiyyat, Asma,
Aisyah, Khonsa., dan lain-lain. Gambaran-gambaran ini yang memberi tahu kepada
kita bahwa pernah ada suatu masa di mana Islam mendarah daging dalam jiwa-jiwa
pemeluknya. Dan ini yang belum dimilki sebagian besar umat Islam hari ini.
Islam belum menjadi watak. Islam kita baru sebatas ritual-ritual pemenuhan
rukun Islam. Yang berislam baru anggota tubuh yang kita libatkan dalam ritual
tersebut. Sementara watak masih terkontaminasi oleh nilai-nilai jahiliyyah.
Maka
pertanyaan ‘mengapa Islam terpuruk’ tidak begitu sulit untuk menjawabnya.
Karena Islam belum menjadi watak. Andai watak sudah berislam, seharusnya
hal-hal kecil seperti kesukuan, budaya dan kebiasaan-kebiasaan remeh tidak
layak disandingkan dengan Islam bahkan sampai mengalahkannya. Fanatisme mazhab,
partai, golongan, hanya akan merusak pesona Islam bukan meninggikannya. Watak,
karakter, dari sudut terkecil hingga yang terbesar, di sanalah seharusnya Islam
menjadi warna.
Fenomena
yang sangat mencekam ketika kondisi umat diombang ambing senjata pemusnah iman
dan moral para musuh lalu kaum muslimin masih berkecimpung dengan egoisme
golongan, menyalahkan suadaranya yang tidak semadzhab, menjatuhkan ikhwahnya
hanya karena berbeda pandang. Sungguh naïf. Karena yang hidup di zaman
Rasulullah saw juga spesies manusia yang sama dengan hari ini. Pasti di sana
ada ikhtilaf, ada perselisihan. Tapi Islam tetap dengan pesonanya. Sebab dalam
jiwa-jiwa yang diselimuti iman ada kekuatan untuk mengalahkan watak kemanusiaan
dengan watak keislaman. Keberadaan mereka menjadi sumber daya. Islam menjadi
bahan bakar pergerakan. Walau ada kekecewaan, walau ada pertentangan, manusia
berwatak Islam yang digambarkan sejarah tetap berkenan saling merendahkan hati.
Watak inilah yang penulis buku “Dari Gerakan Ke Negara”, Anis Matta maksudkan,
karakter mendasar yang menjadi kunci suksesnya amal jama’i ini.
Allahu
a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar