Jumat, 14 Desember 2012

Islamisasi Watak



Kesaksian lelaki legam itu mengakhiri masa perbudakannya. Ia berislam di tangan Abu Bakr Ash Shiddiq ra. Dua kalimah syahadat benar-benar mengubah kedudukannya. Status sosial “budak” diangkat oleh Rasulullah menjadi muadzin dan tidak segan bagi Amirul Mukminin Umar ra ketika disebutkan di hdapannya nama Abu Bakr, maka ia berujar, “Abu Bakr sayyiduna wa a’taqo sayyidana”. Sayyid, tuan, sebutan itu yang Umar panggilkan kepada orang Habasyi itu, Bilal bin Rabah.
 
Selalu ada penderitaan sebelum kemenangan. Harus ada tangisan darah dalam perjuangan. Bilal, lelaki yang masuk surga sebelum mati itu harus menanggung siksaan dari majikannya yang dzalim, Umayyah. Di terik panggangan gurun, jasadnya ditimpai bongkahan batu besar. Hina, sehina hinanya Bilal. Budak yang tak berharga, membangkang pada sang tuan. Itu kacamata Umayyah. Sedangkan RabbNya menghendaki ia menuju langit kemuliaan. Keyakinannya tidak goyah semata karena takut pada ia yang memberinya makan. Ahad, ahad, ahad, ideology tauhid itu sudah mengakar kuat. Mengusir rasa takut dan khawatir. Hanya keyakinan, murni, tanpa ada campuran keraguan setitik pun.

Demikian halnya dengan pemuda tampan yang syahid di medan Uhud itu. Sikap protes Ibunya tidak membuatnya bergeming. Tauhid harga mati.
Demikian penggalan kisah silam. Cerita manusia-manusia pertama yang Allah pilih untuk mendampingi kekasihnya. Jenak-jenak yang tidak mungkin berulang.

Yang harus kita lakukan di abad 15 belas catatan sejarah peradaban Islam tentu bukan meratapi atau berandai-andai masa kenabian itu diputar ulang. Mustahil. Karena Allah sudah mengakhiri pengutusan Rasulullah dengan diturunkannya Muhammad saw. Tugas kita hari ini adalah bagaimana menerjemahkan kemenangan-kemenangan sejarah menjadi cara untuk memenangkan kembali Islam hari ini.

Tentu ada kondisi yang kontradiktif. Sejarah menggambarkan, Islam Allah turunkan kal itu ibarat lilin, dinyalakan dalam sumbu hati sebagian kecil manusia di tengah masyarakat jahiliyyah. Kaum minoritas itu dihadang berbagai ancaman, siksaan, real, hingga wafatnya Khadijah ra pasca pemboikotan kuffar terhadap kaum muslimin. Kecil, namun kekuatannya mampu mengusir jahiliyyah dari tanah Makkah. Bagaimana bisa? Sedangkan hari ini, khususnya di Negara Indonesia, Islam sebatas bahasa persentase, sekian pemeluk dari sekian ratus juta penduduk. Besaran jumlahnya tidak menjadi isyarat kejayaannya. Bahkan kadang, mendengar kata “muslim” “Islam” diidentikan dengan kemunduran; miskin, terror, lemah intelektual, gagap.

Rupanya ada perbedaan yang sangat kontras antara sikap jiwa kaum muslimin di 15 abad lalu dan hari ini. Saat itu, Islam mewatak dalam jiwa kaum muslimin. Kita lihat bagaimana Bilal dengan begitu idealis mempertahankan aqidahnya di hadapan majikan. Mush’ab yang tidak merasa takut kehilangan keluarga, dibenci, ditinggalkan. Itu hanya gebrakan kecil. Masih terbentang medan ujian di hadapannya. Begitu pula dengan penduduk Yatsrib, dedikasinya kepada dakwah Rasulullah saw membuat mereka mendapat sebutan yang tidak diberikan pada kaum lain, Anshor (penolong). Demikian halnya dengan para shahabiyyat, Asma, Aisyah, Khonsa., dan lain-lain. Gambaran-gambaran ini yang memberi tahu kepada kita bahwa pernah ada suatu masa di mana Islam mendarah daging dalam jiwa-jiwa pemeluknya. Dan ini yang belum dimilki sebagian besar umat Islam hari ini. Islam belum menjadi watak. Islam kita baru sebatas ritual-ritual pemenuhan rukun Islam. Yang berislam baru anggota tubuh yang kita libatkan dalam ritual tersebut. Sementara watak masih terkontaminasi oleh nilai-nilai jahiliyyah.

Maka pertanyaan ‘mengapa Islam terpuruk’ tidak begitu sulit untuk menjawabnya. Karena Islam belum menjadi watak. Andai watak sudah berislam, seharusnya hal-hal kecil seperti kesukuan, budaya dan kebiasaan-kebiasaan remeh tidak layak disandingkan dengan Islam bahkan sampai mengalahkannya. Fanatisme mazhab, partai, golongan, hanya akan merusak pesona Islam bukan meninggikannya. Watak, karakter, dari sudut terkecil hingga yang terbesar, di sanalah seharusnya Islam menjadi warna.

Fenomena yang sangat mencekam ketika kondisi umat diombang ambing senjata pemusnah iman dan moral para musuh lalu kaum muslimin masih berkecimpung dengan egoisme golongan, menyalahkan suadaranya yang tidak semadzhab, menjatuhkan ikhwahnya hanya karena berbeda pandang. Sungguh naïf. Karena yang hidup di zaman Rasulullah saw juga spesies manusia yang sama dengan hari ini. Pasti di sana ada ikhtilaf, ada perselisihan. Tapi Islam tetap dengan pesonanya. Sebab dalam jiwa-jiwa yang diselimuti iman ada kekuatan untuk mengalahkan watak kemanusiaan dengan watak keislaman. Keberadaan mereka menjadi sumber daya. Islam menjadi bahan bakar pergerakan. Walau ada kekecewaan, walau ada pertentangan, manusia berwatak Islam yang digambarkan sejarah tetap berkenan saling merendahkan hati. Watak inilah yang penulis buku “Dari Gerakan Ke Negara”, Anis Matta maksudkan, karakter mendasar yang menjadi kunci suksesnya amal jama’i ini.
Allahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar