Langkahnya
diayun anggun. Sorot matanya teduh, senyumnya menentramkan yang memandang.
Tutur bahasa nan lembut membuat para pemuda yang dilewatinya terpesona. Balutan
rapih jilbab dan gaun muslimahnya menjadi identitas keshalihan, kedekatan
dengan Rabbnya, kemapanan ilmu dan kematangan kepribadian. Tak ayal, ia pun
mendapatkan perlaukan berbeda dari para pemuda. Mereka menggodanya bukan dengan
siulan atau guyonan “cewek…” melainkan “assalamu’alaikum”. Pada
kesempatan lain terkadang mereka melontarkan kalimat yang lebih ekspresif,
tanpa beban, “yang kayak begini nih calon bini bener…!”
Itulah
gambaran ekspektasi masyarakat pada sosok ukhti muslimah. Kehadirannya dianggap
mampu menjadi penuntas perbaikan-perbaikan umat. Karena di zaman yang serba
permisif ini, kontribusi muslimah sangat dituntut untuk menjadi penyeimbang,
meluruskan pemahaman-pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai dan amal-amal
islami.
Maka tidak
perlu dipertanyakan hendak kemana ukhti muslimah melenggang pergi. Ia menuju
panggung pertemuan dengan para mad’u (objek dakwah). Apakah itu mengajar di
perkantoran, private, majlis taklim, aktif di organisasi mahasiwa, LSM, bahkan
kepartaian. Tidak berlebihan jika ia dipanggil ustadzah, amah, bu guru, dan
lain-lain.
Ukhti
muslimah yang mahasiswa, akan bejibaku dengan aktivitas di luar kampus. Kekakuan
interaksi antara dirinya dengan lawan jenis menuntutnya untuk serba bisa.
Melindungi diri, mengusahakan kepentingan pribadi, dan sebagainya. Oleh karena
itu, branding akhwat tangguh dan serba bisa sudah menjadi merek paten seorang
ukhti muslimah.
Menjelang
magrib atau bahkan ba’da isya, ia baru muncul lagi di markaz; kosan, rumah,
atau asrama. Wajahnya lusuh, semerbak aroma tubuhnya berbeda dengan aroma
kepergiannya. Maklum, mungkin di kopaja berdesak-desakan, panas, polusi,
entahlah. Di tangannya ditenteng keresek hitam, biasanya berisi makanan untuk
makan malam. Kepadatan aktivitasnya membuat ia kurang begitu memerhatikan
hak-hak tubuhnya, terutama makan. Hanya do’a untukmu dimunajatkan, semoga
pengorbananmu menjadi saksi dan pemberat amal baik di yaumil akhir.
Karena
merasa lelah dengan aktivitas di luar rumah, ukhti muslimah memilih untuk
duduk-duduk di depan televisi guna melepaskan kepenatan. Ia membuka makanan dan
menyantapnya. Karena penghuni rumah dipastikan mahram semua, kaos kaki dan
jilbab ditanggalkannya. Setelah berbincang-bincang, saling mencicipi menu-menu
yang terhidang, dan merasa sudah memenuhi hak perutnya, ia kembali pada dua
pilihan agenda, menghibur diri atau mengistrahatkannya. Menghibur diri bisa
dengan nonton, mantengin jejaring social, dan lain-lain.
Lagi-lagi
karena merasa lelah, ukhti tidak sempat lagi mencuci piring, membereskan dapur,
menampung sampah di tempatnya, membereskan kamar, atau bahkan mencuci tubuh
sendiri. Kadang-kadang, ia juga lupa menyimpan aksesoris khas – kaos kaki –
pada tempatnya. Jangan aneh andai suatu hari silaturahim ke rumahnya
ditemukan kursi berkaos kaki atau berjilbab, itulah dapur aslinya.
Namun ukhti,
pemakluman ini tidak layak diperpanjang. Harus ada perombakan dapur agar ukhti
muslimah menjadi perempuan mempesona diluar dan di dalam rumah. Vitalitas
energiknya di luar, harus pula mampu menuntaskan tugas tugas perempuan di dalam
rumah. Ironis dan tidak patut, jika di luar berperan sebagai ustadzah,
mengurusi hal-hal besar, menuntaskan problematika umat, bejibaku sibuk sana
sini, namun sesampainya di rumah, ia seketika menjelma menjadi sosok yang tidak
berkarakter, tanpa kepribadian dengan sikap-sikapnya yang membuat orang lain
tidak nyaman dan merasa terbebani. Hak-hak dirinya tidak ditunaikan. Aroma
jasad yang membuat teman di sekitarnya mual-mual tak diperdulikan. Kamar tidur
yang konon disebut mirip kapal pecah tidak merasa mengusik kenyamanan. Sampah
dan piring kotor jejak pemenuhan panggilan perutnya, berserakan begitu saja,
tanpa difikirkan bahwa itu menjadi beban bagi orang lain. Minimal beban
pandangan. Kita mungkin merasa tidak masalah dengan hal itu, tetapi belum tentu
dengan saudara kita. Belum lagi kaos kaki, baju kotor yang direndam
berhari-hari. Dan masih banyak lagi.
Mungkin
inilah jawaban sederhana mengapa Islam yang kita banggakan, kita propogandakan
sebagai solusi baru sebatas rasa percaya diri kita saja. Ruh Islam sebagai
solusi belum dirasakan oleh masyarakat luas. Karena ternyata Islam sebagai
sistem yang sempurna belum menjadi watak para penyerunya. Islam baru sebatas
topic menarik yang dibincang-bincangkan antara ustadzah dan mustami’, antara
daiyyah dan mad’u.
Bagaimana
hal-hal besar akan dimenangkan, akan berhasil dimasuki nilai-nilai Islam jika
pada hal-hal sepele nila-nilai Islam masih disingkirkan. Kebersihan,
kenyamanan, kerapihan dan kecantikan. Pengerjaannya bukan semata-mata terobsesi
pada siapa yang memandang di luar, melainkan mereka yang paling dekat dengan
kita. Teman serumah, sekamar, atau tetangga, atau lebih privasi dari itu, diri
kita lah yang akan menikmati kerja-kerja keresikan, perawatan terhadap diri
sendiri itu.
Sesekali
boleh dimaklumi kelelahannya, tetapi sejatinya, lelah dan tidak itu mentalitas.
Berangkat dari kebiasaan-kebiasaan kecil, pembenahan pola fikir ‘penataan
urusan-urusan kecil adalah pembelajaran menuju penyelesaian hal-hal besar’.
Miris andai kebiasaan buruk ini terbawa ke pernikahan, lalu diwariskan pada
generasi berikutnya. Bukankah penipuan andai di luar terlihat menawan ternyata
di dalam mengerikan?
Yuk,
berbenah…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar