Kamis, 13 Desember 2012

Muslimah di Luar Muslimah di Dalam


Langkahnya diayun anggun. Sorot matanya teduh, senyumnya menentramkan yang memandang. Tutur bahasa nan lembut membuat para pemuda yang dilewatinya terpesona. Balutan rapih jilbab dan gaun muslimahnya menjadi identitas keshalihan, kedekatan dengan Rabbnya, kemapanan ilmu dan kematangan kepribadian. Tak ayal, ia pun mendapatkan perlaukan berbeda dari para pemuda. Mereka menggodanya bukan dengan siulan atau guyonan “cewek…” melainkan “assalamu’alaikum”. Pada kesempatan lain terkadang mereka melontarkan kalimat yang lebih ekspresif, tanpa beban, “yang kayak begini nih calon bini bener…!”

Itulah gambaran ekspektasi masyarakat pada sosok ukhti muslimah. Kehadirannya dianggap mampu menjadi penuntas perbaikan-perbaikan umat. Karena di zaman yang serba permisif ini, kontribusi muslimah sangat dituntut untuk menjadi penyeimbang, meluruskan pemahaman-pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai dan amal-amal islami.

Maka tidak perlu dipertanyakan hendak kemana ukhti muslimah melenggang pergi. Ia menuju panggung pertemuan dengan para mad’u (objek dakwah). Apakah itu mengajar di perkantoran, private, majlis taklim, aktif di organisasi mahasiwa, LSM, bahkan kepartaian. Tidak berlebihan jika ia dipanggil ustadzah, amah, bu guru, dan lain-lain.
Ukhti muslimah yang mahasiswa, akan bejibaku dengan aktivitas di luar kampus. Kekakuan interaksi antara dirinya dengan lawan jenis menuntutnya untuk serba bisa. Melindungi diri, mengusahakan kepentingan pribadi, dan sebagainya. Oleh karena itu, branding akhwat tangguh dan serba bisa sudah menjadi merek paten seorang ukhti muslimah.

Menjelang magrib atau bahkan ba’da isya, ia baru muncul lagi di markaz; kosan, rumah, atau asrama. Wajahnya lusuh, semerbak aroma tubuhnya berbeda dengan aroma kepergiannya. Maklum, mungkin di kopaja berdesak-desakan, panas, polusi, entahlah. Di tangannya ditenteng keresek hitam, biasanya berisi makanan untuk makan malam. Kepadatan aktivitasnya membuat ia kurang begitu memerhatikan hak-hak tubuhnya, terutama makan. Hanya do’a untukmu dimunajatkan, semoga pengorbananmu menjadi saksi dan pemberat amal baik di yaumil akhir.

Karena merasa lelah dengan aktivitas di luar rumah, ukhti muslimah memilih untuk duduk-duduk di depan televisi guna melepaskan kepenatan. Ia membuka makanan dan menyantapnya. Karena penghuni rumah dipastikan mahram semua, kaos kaki dan jilbab ditanggalkannya. Setelah berbincang-bincang, saling mencicipi menu-menu yang terhidang, dan merasa sudah memenuhi hak perutnya, ia kembali pada dua pilihan agenda, menghibur diri atau mengistrahatkannya. Menghibur diri bisa dengan nonton, mantengin jejaring social, dan lain-lain.

Lagi-lagi karena merasa lelah, ukhti tidak sempat lagi mencuci piring, membereskan dapur, menampung sampah di tempatnya, membereskan kamar, atau bahkan mencuci tubuh sendiri. Kadang-kadang, ia juga lupa menyimpan aksesoris khas – kaos kaki – pada tempatnya. Jangan aneh andai suatu hari silaturahim ke rumahnya ditemukan kursi berkaos kaki atau berjilbab, itulah dapur aslinya.

Namun ukhti, pemakluman ini tidak layak diperpanjang. Harus ada perombakan dapur agar ukhti muslimah menjadi perempuan mempesona diluar dan di dalam rumah. Vitalitas energiknya di luar, harus pula mampu menuntaskan tugas tugas perempuan di dalam rumah. Ironis dan tidak patut, jika di luar berperan sebagai ustadzah, mengurusi hal-hal besar, menuntaskan problematika umat, bejibaku sibuk sana sini, namun sesampainya di rumah, ia seketika menjelma menjadi sosok yang tidak berkarakter, tanpa kepribadian dengan sikap-sikapnya yang membuat orang lain tidak nyaman dan merasa terbebani. Hak-hak dirinya tidak ditunaikan. Aroma jasad yang membuat teman di sekitarnya mual-mual tak diperdulikan. Kamar tidur yang konon disebut mirip kapal pecah tidak merasa mengusik kenyamanan. Sampah dan piring kotor jejak pemenuhan panggilan perutnya, berserakan begitu saja, tanpa difikirkan bahwa itu menjadi beban bagi orang lain. Minimal beban pandangan. Kita mungkin merasa tidak masalah dengan hal itu, tetapi belum tentu dengan saudara kita. Belum lagi kaos kaki, baju kotor yang direndam berhari-hari. Dan masih banyak lagi.

Mungkin inilah jawaban sederhana mengapa Islam yang kita banggakan, kita propogandakan sebagai solusi baru sebatas rasa percaya diri kita saja. Ruh Islam sebagai solusi belum dirasakan oleh masyarakat luas. Karena ternyata Islam sebagai sistem yang sempurna belum menjadi watak para penyerunya. Islam baru sebatas topic menarik yang dibincang-bincangkan antara ustadzah dan mustami’, antara daiyyah dan mad’u.

Bagaimana hal-hal besar akan dimenangkan, akan berhasil dimasuki nilai-nilai Islam jika pada hal-hal sepele nila-nilai Islam masih disingkirkan. Kebersihan, kenyamanan, kerapihan dan kecantikan. Pengerjaannya bukan semata-mata terobsesi pada siapa yang memandang di luar, melainkan mereka yang paling dekat dengan kita. Teman serumah, sekamar, atau tetangga, atau lebih privasi dari itu, diri kita lah yang akan menikmati kerja-kerja keresikan, perawatan terhadap diri sendiri itu.

Sesekali boleh dimaklumi kelelahannya, tetapi sejatinya, lelah dan tidak itu mentalitas. Berangkat dari kebiasaan-kebiasaan kecil, pembenahan pola fikir ‘penataan urusan-urusan kecil adalah pembelajaran menuju penyelesaian hal-hal besar’. Miris andai kebiasaan buruk ini terbawa ke pernikahan, lalu diwariskan pada generasi berikutnya. Bukankah penipuan andai di luar terlihat menawan ternyata di dalam mengerikan?

Yuk, berbenah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar