Senin, 10 Desember 2012

Love You, Wat...

Partner Adam yang satu ini memang sangat istimewa. Dihiaskan keindahan pada tubuhnya, kecantikan pada wajahnya, kelembutan pada tuturnya, ketentraman pada senyumnya, keteduhan pada sorot matanya. Di pundaknya menggunung tugas-tugas mulia. Menjadi hamba Allah, istri, ibu, anak dan menantu serta anggota masyarakat.
Pepatah bijak mengatakan "wanita merupakan representasi suatu bangsa". Jika baik wanitanya maka baik pula pemimpin dan bangsa di suatu negeri, begitu pula kebalikannya. Karena dari rahimnya lahir keturunan, generasi kehidupan setelahnya. Dari ayunannya pula lahir para pejuang, negarawan atau penghancur negara, pemimpin atau pengikut, pemenang atau pecundang, dan sebagainya. Ya, karakter-karakter itu sudah ditentukan sejak ia dalam buaian wanita yang melahirkannya. Jabatan yang sangat strategis bukan?
Sayangnya, di tengah persoalan umat yang kian menggurita di berbagai lini kehidupan, wanita yang seharusnya turut serta menjadi penuntas hampir saja tumpas izzahnya karena missaware akan "kewanitaannya". Kalau sudah begitu, bagaimana langkah perbaikan umat akan berjalan baik?
Oleh karena itu, tanpa menunda perbaikan-perbaikan di luar rumah, alangkah seimbangnya andaikata kemapanan pribadi wanita dimiliki seorang aktivis di luar dan di dalam rumah. Ini dia beberapa hal yang sering diabaikan wanita (khususnya aktivis) yang bejibaku dengan aktivitas di luar rumah.
1. Hak-hak tubuhnya : Fenomena yang sangat marak, suguhan suguhan praktis kepada kaum wanita memang sangat menggda. Mulai dari makanan, kosmetik, pakaian, obat-obatan, dan lain-lain. Makanan berbahaya yang paling sulit dihindari adalah gorengan, baik yang berupa gorengan dua ribu tiga, nasi goreng, bangsa pecel, dan kawan-kawannya. Selain itu sering pula tidak terperhatikan komposisi makanan yang disantap sehari-harinya. Demikian halnya dengan olahraga, kegiatan ini dianggap tidak penting. Entahlah...
2. Hak-hak akalnya : Miris memang, ketika wanita muslimah dituntut untuk banyak kontribusi di luar, ia akan pulang dengan sisa-sisa tenaga. Tidak ada energi tambahan untuk membaca buku, diskusi atau menulis (kalo nulis status sih ga kelewat). Buku-buku kadang hanya menjadi sarang debu. Wawasannya menjadi terbatas dan kaku dengan informasi terbaru.
3. Hak-hak lingkungan tinggalnya. Wanita Muslimah yang dikenal hebat di depan pintu, seharunya hebat pula sosoknya di balik pintu alias di dalam rumah. Alangkah menipu andai di luar terpancar pesonanya, ternyata di dalam rumah joroknya tidak ketulungan. Pakaian direndam berhari-hari, westafel dipenuhi piring-piring kotor, kamar disarangi debu, handuk, kaos kaki, jilbab,,, bergelantungan bukan pada tempatnya.
Tiga hal di atas terkesan hal sepele. Namun bagaimana persoalan-persoalan besar akan terselesaikan jika yang sepele masih diabaikan. Tawaran solusinya sebagai berikut:
a. Perbanyak membaca. Sudah diketahui bersama bahwa membaca merupakan perintah pertama dari Allah kepada RasulNya. Karena pekerjaan ini merupakan kunci terbukanya pengetahuan-pengetahuan. Di samping membaca buku-buku "berat", cobalah sesekali bertandang pada buku-buku "soft" tentang kesehatan, pola makan, pola hidup, psikologi, hubungan antar personal, dan masih banyak lagi. Karena di tengah peperangan pemikiran hari ini, wanita Muslimah dituntut serba tahu, serba mampu dan berani. Wanita muslimah dibutuhkan perannya untuk membuka buhul buhul kebingungan umat. Pengetahuan luas juga akan membentuk karakter yang mapan menuju keseimbangan. Idealnya ia mengagendakan beli buku setiap bulannya, minimal satu buku. Di sini dituntut kemampuan memenej keuangan bulanan yang biasanya rebutan dengan anggaran makan, kosan, dan wara wiri.
b. Hemat waktu. Bagi para penggiat kebaikan, 24 jam waktu bumi mengitari matahari ini tidak cukup. Ia berharap bumi berputar lebih lambat agar tumpukan tugasnya dapat diselesaikan dengan baik di masing-masing hari. Tetapi ini hanya sebatas perandaian, akal manusia sangat terbatas. Solusinya adalah hemat waktu, gunakan dengan baik, jangan dibuang-buang, karena waktu tidak dijual belikan. Sudah seharunya wanita muslimah menjaga jarak dengan televisi, facebook, mengobrol yang sia-sia atau berlama-lama makan.
c. Action Now. Ketika kesadaran akan pentingnya membaca dan memanfaatkan waktu mulai bersemi, jangan menunggu pagi untuk perubahan. Jangan menunggu teman agar tidak sendirian. "Tetaplah dalam kebenaran walau engkau sendirian" begitu ujar syeikhu at tarbiyyah. Sebab kekalahan dan kemenangan esok kita tentukan hari ini. Kita rintis dari kebiasaan kebiasaan kecil, sepele dan nampak tidak diperthitungkan oleh orang lain. Mungkin kita juga akan terasing, sikap-sikap hidup yang kita pilih ternyata tidak banyak dipilih. Namun tidak masalah. Sunnatullah. Kebaikan hanya akan dilakukan oleh segelintir kecil.
 
Demikian tipsnya, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Andai ada yang tersinggung atau merasa kurang berkenan, mohon dimaafkan. Love you, Wat... sengaja disusun sebagai salah satu indikasi kecintaan penulis kepada para akhwat muslimah. Allahu a'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar